Cerpen – Aku Juga Beriman 40%

0 13
Loading...

Pagi sekali di SMA, kumpullah beberapa anak demi mendiskusikan perkara iman. Satu persatu mereka saling mendebak, dalam menafsirkan makna iman. Sebelum guru agama masuk, mereka mempertanyakan hal itu kepada temannya yang lebih pintar. Namun penjelasan demi penjelasan tidak dapat memuaskan mereka. Mereka ibaratnya burung yang sedang kehausan, maka tak henti-hentinya burung itu akan terbang mencari air demi menghilangkan rasa dahaganya.

beriman

Baca Juga: Bila Mencari Jodoh Tak Kunjung Datang, Intropeksi Dirilah – CERPEN

Pagi itu menjadi saksi, ya menjadi saksi kepada anak-anak yang sedang membuat majelis ilmu. Bukankah di setiap majelis ilmu akan ada para malaikat yang selalu berzikir terhadap majelis itu. Tak berapa lama mereka berdiskusi, bertanyalah seseorang kepada salahsatu temannya yang lebih pintar.

“Anwar menurut kamu iman itu apa sih?,” Tanya Arfan ingin tahu

Dengan tenang Anwar menjawab

“Kalau sih saya, beriman itu meyakini dalam hati, di ucapkan dengan lisan dan dilaksanakan dengan perbuatan. Itulah iman yang sebenarnya.

Mendengar hal itu anak-anak mengangguk. Namun tak berapa lama munculah pertanyaan lagi.

“Anwar saya ini merasa diri beriman, karena saya meyakini dalam hati, bahwa Allah itu ada dan patut kita sembah dan saya juga mengucapkannya secara lisan dengan syahadat, namun saya lalai melaksanakan perintah Allah, kira-kira menurut kamu apakah itu di katakan orang yang beriman?,” Tanya Budi penuh pesaran.

“Kalau saya sih bingun juga, kalau saya katakan beriman salah dan tidak juga salah, kira-kira menurut kamu Rudi apa?,” Tanya Anwar kepada Rudi

“Kalau saya sih beriman, tapi berimannya empat puluh persen, dan belum seratus persen. Karena dia baru melaksanakan secara lisan dan hati. Karena saya juga demikian, tapi agak beda sedikit, kalau saya sih laksanakan sholat dan di ikuti dengan hati, tapi kadang lisan saya tidak sesuai dengan hati saya.

ucapkan dengan lisan

Baca Juga: DIAMNYA PEMUDA HANCURNYA NEGARA

“Wah itu sama dengan saya, saya juga tidak lengkap keimananku, saya percaya secara lisan dan saya juga laksanakan sholat, tapi hati saya sih masih bingun dengan adanya Tuhan, jangan sampai saya sholat menyembah tembok, dan kadang hatiku bertanya, emangnya Tuhan itu adakah?,” Sahut Irfan

“Wah kalau itu saya tidak bisa komentar sama sekali, karena saya juga tidak tahu tentang perkara itu, bukankah jika saya menjawab sembarang, maka hati, lisan dan telinga saya akan mempertanggungjawabkan apa yang saya jelaskan, saya takut sama azab Allah,” ujar Hanif

Kemudian mereka terdiam sejenak, tak berapa lama terdengarlah sepatah kata dari salah satu mereka.

“Begini saja, sebentar selesai ba’da magrib, kita tanyakan saja perkara ini kepada Ustad Rahmat,”Usul Anwar

“Wah betul-betul itu,” sahut Hanif

Usai berdiskusi dan tidak menemukan kesimpulan yang tepat, pada akhirnya satu persatu dari mereka berpencar dengan membawa ilmu yang penuh tanda tanya.

****

Setelah selesai ba’da magrib, sebagaimana biasanya ketika melihat Ustad Rahmat, biasanya mereka langsung membuat majelis ilmu. Majelis itu semakin hari semakin banyak. Dulunya majelis hanyalah di isi beberapa orang, kini semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Bertanda semakin banyak orang-orang yang sadar terhadap pentingnya ilmu pengetahuan, nabi kita pernah menyampaikan hal itu dalam sabdanya.

“Barang siapa yang ingin selamat dunia maka harus dengan ilmu, barangsiapa yang ingin selamat akhirat maka harus dengan ilmu dan barangsiapa yang ingin selamat kedua-duanya maka harus dengan ilmu.

Hadis inilah yang membuat mereka termotivasi dan berkobar-kobar semangatnya dalam menuntut ilmu agama. Karena hanyalah ilmu inilah yang akan menyelamatkan manusia dari kemunafikan dalam menghadapi dunia ini. Ilmu dunia tanpa ilmu agama, maka akan menjadikan kita sebagai orang yang berilmu tapi tak pandai bersyukur. Sehingga dalam syariat kita di tuntun untuk mempelajari agama. Belajar ilmu agama itu hukumnnya fardhu ‘ain. Setiap muslim haruslah mempelajari agama, bila tidak maka kezaliman demi kezaliman akan menghantui dirinya.

Alasan inilah sehingga anak-anak semakin hari memadati majelis ilmu yang di buat Ustad Rahmat.

Assalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh,” salam Ustad Rahmat kepada seluruh jamaah yang hadir pada saat itu.

“Walekum salam warahmatulahi wabarakatuh,” jawab seluruh jamaah yang hadir.

Tak berapa lama Ustad mengangkat satu topik yang berhubungan dengan Iman.

iman

“Hadirin jamaah yang di rahmati oleh Allah SWT, alhandulillah semakin hari semakin jamaah sadar tentang pentingnya menuntut ilmu pengetahuan. Ini akan bertanda bahwa islam semakin hari semakin jaya dan ini juga bertanda bahwa ajaran rasululllah akan membumi di dunia dan bukan hanya melangit tapi akan turun dan tersebar di seluruh pelosok dunia. Semakin hari semakin bertanda orang-orang di dunia terasa resah, karena mereka tidak yakin adanya kekuatan yang maha dasyat yaitu Allah SWT.

Padahal keyakinan ini haruslah kita tanamkan dengan sebaik-baiknya. Karena yakin itu merupakan landasan agama yang utama, orang yang Beragama tanpa keyakinan atau tanpa keimanan maka sesungguhnya telah gugurlah keimanannya. Bila manusia Beragama tapi dia tidak yakin atas kebenaran Allah, Rasulnya dan kitab-kitabnya sesungguhnya dia telah menggugurkan seluruh sendi keimanannya. Karena iman yaitu menyakini dalam hati, di ucapkan dengan lisan dan di laksanakan dengan perbuatan. Ketiga unsur itu haruslah terpenuhi, jika tidak sesungguhnya tidak akan ada kesempurnaan iman. Oh sebelum saya lanjut lebih dalam tentang iman, apa ada pertanyaan?,” Tanya Ustad Rahmat

“Pak Ustad saya mau bertanya, kemarin sempat kami mendiskusikan hal itu, tapi kami belum menemukan solusinya, yang pertama ada orang yang beriman, di ucapkan dengan lisan, di yakini dalam hati tapi tidak di laksanakan dengan perbuatan. Dan ada juga orang yang melaksanakan dengan perbuatan dan di ucapkan dengan lisan tapi tidak di yakini dalam hati dan ada juga orang yang menyakini dalam hati, di laksanakan dengan perbuatan, namun antara hatinya dan lisannya kadang bertentangan. Kira-kira menurut Ustad mereka itu di sebut apa? Karena kemarin ada juga temanku menyebutnya beriman empat puluh persen, katanya belum seratus persen,” tanya Roimanto dengan penuh keyakinan.

Mendengar hal itu, Ustad Rahmat menarik nafas dan tersenyum kepada seluruh jamaahnya.

perkara iman

“Jamaahku yang aku cintai, iman itu haruslah terpenuhi tiga kreteria yaitu lisan, hatinya dan di buktikan dengan perbuatan. Bila orang yang hanya lisan, hati tanpa perbuatan itu di sebut sebagai orang yang fasiq. Sedangkan orang yang hanya lisan, perbuatan tanpa di yakini dengan hati, maka itu di sebut orang kafir. Dan iman hanya hati dan perbuatan tanpa di ikuti dengan lisan, sesungguhnya itu orang munafik. Inilah dampaknya jika kita beriman tidak lengkap, kalau bukan kita menjadi orang munafik, fasiq dan lebih parahnya nanti kita di sebut sebagai orang kafir.

“Wah, wah, wah, wah saya kira Ustad, itu orang beriman tapi 40 persen. Eh ternyata setelah mendengar penjelasan pak Ustad baru saya tahu. Oleh karena itu kepada teman-temanku saya harap kita harus beriman secara lengkap, contohnya saja mobil, bila mobil tanpa ban pasti mobil tidak akan jalan dan bila mobil tanpa mesin pasti mobil juga tidak akan jalan. Karena pada prinsipnya kebeberapa unsur itu merupakan sistem dalam sebuah mobil. Iman juga begitu, beriman secara lisan dan hati tanpa perbuatan, itu tidak akan menyempurnakan iman, iyakan begitu Ustad?,” tanya Nosman

“Wah, wah kata ipin dan upin, betul, betul, betul, betul,” sahut Anwar

“Oh ia saya kira kita cukupkan saja kajian islam kita malam ini, lebih dan kurangnya mohon di maafkan, karena aku bukanlah manusia sempurna seperti rokok sampoerna, Assalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh,” salam Ustad Rahmat

“Walekum salam warahmtulahi wabarakatuh,” jawab seluruh jamaah dan kemudian mereka berpencar meninggalkan majelis ilmu Ustad Rahmat.

Tak berapa lama terdengarlah azan Isya.

Loading...
Comments
Loading...