Bebas Tapi Terpenjara

  • Whatsapp
PENJARA BEBAS

Bebas Tapi Terpenjara – Menit demi menit sang surya perlahan-lahan meredupkan sinarnya. Awan putih terlihat kemerahan. Lautan telah melahap sang surya di kejauhan. Perahu di talut pemecah ombak berlabung tenang. Angin bertiup alun-alun. Anak-anak sudah pulau dari tempat bermain. Mereka bermain pasir-pasiran. Azan magrib memecah bisingan anak ombak di pesisir pantai. Kini waktu ibadah telah tiba. Yang tebal imam nya segera ke masjid. Sedangkan yang kendor imam nya mendengar azan bagaikan nyanyian nyamuk yang berpesta pora menikmati tetesan demi tetesan darah manusia.

Read More

Iqomat telah dilantunkan sang muazin. Pertanda sholat akan mulai dilaksanakan. Sang iman berdiri di mihrab masjid. Dibelakang ada beberapa makmun yang siap mengikuti sang iman. Takbir memecah keheningan malam. Tak butuh sepuluh menit, sholat magrib telah berakhir.

bebas tapi terpenjara

Usai berzikir dan berdoa, sang imam segera bangkit dari mihrab. Lalu ia mengumpulkan anak-anak yang mulai berhamburan. Setiap hari senin dan jum’at ada kajian rutin di masjid.

Anak-anak mulai berkumpul. Mereka membentuk majelis. Sang imam telah duduk. Mic telah dipegangnya. Ia mulai membuka kajian dengan di awali salam.

“Wa’alekum salam warahmatulahi wabakatuh,”jawab sekumpulan anak-anak

“Judul pembahasan kali ini yaitu bebas tapi terpenjara. Anakku yang saya banggakan. Judul kali ini agak menggelitik. Kok bebas tapi terpenjara. Tapi jujur di dunia ini banyak sekali manusia merasakan hal ini. Ada orang yang kaya raya, tapi tak menikmati kekayaanya itu. Ada pejabat yang gelisah memikirkan jabatannya.

Ia pengen sekali jabatanya setiap tahun semakin tinggi. Ada seorang jenderal yang tidak nyenyak tidur memikirkan karirnya. Sungguh mereka amatlah takut. Bahkan ada seorang pengusaha yang kaya raya, tapi kekayaanya hanya membebani dirinya. Ada orang yang berpolitik, lalu menjatuhkan orang lain dengan lontaran-lontara negatif demi mendapatkan jabatan yang tinggi. Namun setelah jabatan itu di dapatnya. Perasaanya semakin tak tenang.

Baca Juga:  Ada Cahaya di Atas Cahaya

Sang imam memberikan nasehat berapi-api. Ia tak ingin isi ceramanya akan dirasakan oleh anak-anaknya ke depan. Ya, bebas tapi terpenjara. Kali ini masuk sesi Tanya jawab. Salah satu anak mengajukan pertanyaan.

“Maaf pak ustad, saya mau bertanya. Apakah ada orang yang bebas tapi terpenjara. Kok saya agak bingun dengan judul kajian kali ini. Bebas tapi terpenjara. Bukankah kalau sudah bebas maka kita tidak akan terpenjara. Contoh sederhana ada seorang napi yang sudah bebas, secara otomatis dia tidak terpenjara lagi. Kira-kira apa maksudnya pak?

penjara

Baca Juga: Hidup Seperti Secangkir Kopi

“Tahukah engkau di dunia ini ada dua penjara. Yang pertama penjara fisik dan yang kedua adalah penjara jiwa. Ada orang yang fisiknya tidak terpenjara, namun jiwanya terpenjara. Hidup tidak tenang. Seolah-olah ada sesuatu yang menghantui jiwanya. Emang dia telah bebas secara fisik, namun jiwanya terpenjara akan mempengaruhi fisiknya. Karena menurutku penjara jiwa itu lebih berbahaya daripada penjara fisik. Demikian sebaliknya. Ada orang yang fisiknya terpenjara, namun jiwanya tidak terpenjara. Contohnya Buya Hamka yang terpenjara fisiknya, namun jiwanya tidak terpenjara. Sehingga di dalam jeruji besi dia mampu menulis tafsir Al Azhar.

Kita bisa membaca kisah perjuangan Jenderal besar Indonesia yaitu Jenderal Sudirman. Fisiknya kurus dan sakit-sakitan, tapi jiwanya besar. Tak peduli rasa sakitnya untuk berjuang. Menurutnya fisik Sudirman sakit, namun jiwa sang jenderal sampai kapanpun tak akan terasa sakit. Kisah Yusuf as yang lebih memilih penjara daripada mengikuti hawa nafsunya. Yusuf as tahu bahwa fisiknya yang terpenjara tak akan mampu mempengaruhi jiwanya, bila jiwanya terasa bebas. Namun bila jiwanya terpenjara, maka akan mempengaruhi fisiknya, walaupun fisiknya tak terpenjara.

Baca Juga:  Cerpen - Aku Tak Menyangka Kak

jiwanya tidak terpenjara

Lanjut sang imam

“Justru itu anak-anakku latihlah jiwamu dengan baik agar kamu berjiwa besar. Karena bila jiwamu jelek maka engkau akan sakit jiwa, alias menjadi orang gila.

“Lalu pak ustad bagaimana caranya agar kita menjaga jiwa kita agar selalu bebas dan tenang?”Tanya salah satu anak yang duduk bagian ponjok.

“Caranya yaitu dengan cara mendekatkan diri kita kepada Allah. Bukankah DIA yang menciptakan jiwa kita, dan DIA pula yang akan mampu menenangkannya dengan baik. Dan kita berharap bersama, kelat ketika kita dimatikan, maka dimatikan dengan cara jiwa kita akan terasa tenang. Sebagaimana firman Allah surah Al Fajr ayat 27-30

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Anak-anak terpesona dengan penjelasan sang imam. Kini mereka paham. Bahwa manusia mempunyai dua sisi yaitu ada sisi fisik dan ada sisi kejiwaan. Fisik yang nampak dilihat mata, sedangkan jiwa tak nampak dimata, namun mampu mempengaruhi yang nampak. Sebagaimana Tuhan yang tak nampak dimata, namun DIAlah yang mengatur yang nampak dimata.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *