Belajar Dari Titik Air

  • Whatsapp
BELAJAR DARI TITIK AIR

Tetesan demi tetesan terjatuh menghampiri be batuan. Be batuan yang sangat keras, kuat, padat, besar, dan sulit untuk di tembus. Namun tetesan itu tidak pernah berhenti untuk menetes demi menembus be batuan yang padat. Dengan semangatnya dia berkata,” Hai batu walaupun aku cair, sedangkan engkau padat tapi suatu saat aku pasti bisa menembus tubuhmu.

Read More

Hari demi hari dia tak henti-hentinya untuk mengerjakan tugasnya demi menembus batuan tersebut. Capeh, lelah, keringat, air mata mengalir deras, bahkan darah. Namun baginya dia harus menyelesaikan tugas itu demi mencapai cita-citanya yaitu menembus be batuan yang padat. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, tahun berganti windu, windu berganti abab.

Dia tetap tak henti-hentinya meneteskan air itu. Tetesan demi tetesan, perlahan-lahan mengikis bebatuan . Namun semakin hari, hasilnya belum terlalu kelihatan.

Semakin hari semakin banyak rerumputan yang mencemoh. Kodok, Ular, Bunga, Ikan, Singa, burung-burung ikut turut mencemoh.

“Hai air sungguh sia-sia pekerjaanmu itu, kamu pasti tidak akan bisa menembus batu itu. Lihat saja badanmu yang bening, lembek, bahkan mudah pecah. Dan lihat dirimu yang halus, sedangkan batu padat sekali. Bagaimana bisa badan yang lembek akan mampu menembus badan yang padat, sungguh mustahil sekali,”ujar sang Kodok

“Hai lembek, hai bening, hai bodoh, hai kurus, bagaimana bisa kamu menembus batu yang padat, hahahaha, sungguh mustahil sekali. Sungguh kamu telah mengerjakan pekerjaan yang sia-sia. Bahkan semakin hari boleh jadi orang-orang akan mengatakan kamu gila,”sahut sang Ular.

“Hai bodoh, hai gila, hai lembek dan hai bening, kamu tidak berkacakah. Coba kaca dulu dirimu, bagaimana bisa badanmu akan sama dengan batu yang padat, saya saja sebagai raja hutan, sudah takut dengan batu, apalagi kamu yang udah lembek, mau sok-sok jagoan juga. Huhuhuhu mimpi kali,”Sahut Singa

Hari demi hari sang titik air tak henti-hentinya mendengar cemohan demi cemohan. Tapi dia hadapi dengan sabar dan senyum. Dia sangat yakin pada Tuhannya, dia sangatlah yakin dengan keajaiban Tuhannya dan dia sangatlah yakin bila Tuhan berkehendak apa yang tidak terjadi pasti terjadi. Hari demi hari dia selalu memotivasi dirinya dan sekaligus mengerjakan apa yang dia kerjakan selama ini yaitu meneteskan air demi menembus batu yang sangat padat.

menembus batu yang

Baca Juga: Inilah 5 Ide Bisnis Terbaik Tahun 2020

“Yuk kawan-kawan mari kita lihat makhluk gila disana, yang telah berjuang menetesi tubuhnya demi menembus batu yang sangat padat,”Ajak sekuntun Bunga.

“Yuk,yuk,yuk,yuk aku penasaran, emangnya ada makhluk gila yang mengerjakan pekerjaan yang tidak akan mungkin terlaksana?,” Tanya seekor burung yang terbang di angkasa.

“Wah kok kamu nda tahu ya? Wah ternyata kamu KEFO (Kurang Informasi), kasian de loe, ya adalah, itu si gila yang namanya si tetes air.

Setelah melewati berabab-abab air yang tetes telah mampu menembus batu yang padat itu. maka terkumpul lah air itu di lubang yang dia buat. Bahkan air itu jumlahnya berkubit-kubit dan tidak akan pernah habis pada saat musim kemarau. Kini persediaan airnya semakin melimpah dan dia tidak takut lagi pada saat musim kemarau tiba, karena dia telah menyediakan air untuknya sekaligus buat teman-temannya.

Tidak beberapa lama kemarau tiba, semakin hari semakin air berkurang. Rerumputan mulai layu dan menangis kehabisan air.

“Huhuhuhuhu, huhuhu aku haus, aku haus,” tangis Rumput itu

“Kea,kea,kea,kea,kea haus, haus, haus,”teriak sang burung

“Mumumumu, mumumumu, hock,hock, hock haus, haus, haus tolong,”minta tolong singa

“Panas,panas,panas, panas, haus, haus, haus, haus, haus, tolong-tolong,” panik sang kodok

Mendengar hal itu sang air berusaha membantu mereka, dia telah lupa dengan hinaan demi hinaan yang di lontar kan teman-temannya.

“Teman-temanku yang aku cintai, datanglah di sini, ambillah air yang ada di kolam ku, aku ikhlas kok, engkau makhluk Tuhan dan akupun makhluk Tuhan, bila aku telah menelantarkan kalian, sesungguhnya aku telah melalaikan kewajibanku untuk saling menolong antar makhluk ciptaan Tuhan. Ambillah janganlah engkau malu, sesungguhnya sekedar kalian ketahui, aku bekerja berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan berabab-abab demi menampung air yang banyak, agar aku dapat bermanfaat bagi kalian.

BELAJAR DARI TITIK AIR

Baca Juga: INGAT! DEWAN ITU BUKANLAH DEWA

Aku sadar, aku bukanlah makhluk yang sempurna seperti kalian, badanku lembek, bening, tipis, pecah-pecah. Namun aku ingin menjadi makhluk yang dapat memberikan manfaat kepada makhluk yang lainnya. Agar kalian bisa mengenang diriku ketika aku menghadap ke sang Illahi.

“Maaf-maaf ya sobat, kami telah menghinamu, padahal kamu sungguhlah baik buat kami,”Ujar Singa, Kodok, Rerumputan penuh menyesal

“Nda apa-apa bro santai aja.

Kisah ini saya buat terinspirasi dengan sebuah hadis rasulullah yaitu

“Sebaik-baik manusia adalah orang banyak memberikan manfaat kepada orang lain (hadis)

Mudah-mudahan dapat bermanfaat. Coz hanyalah ini yang bisa aku berikan kepada pembaca!!!!

Baca Juga:  Ada Cahaya di Atas Cahaya

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *