Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Cinta Dalam Diam – Cerpen

2 min read

Cinta Dalam Diam

Allah itu maha tahu segalanya, jangankan makhluk yang besar, makhluk yang terkecil pun ia maha tahu. Denyut jantung bergetar, peredaran darah yang mengalir melewati urat nadi, hati bersenandung rindu. Rindu bersenandung cinta dan cinta bersenandung kasih sayang, Allah tahu segalanya. Bukan hanya bahasa manusia, bahasa makhluk yang lainya pun DIA maha tahu.

Hati yang bersenandung dengan halus, jiwa yang bergetar, air mata yang menetes dan masalah yang lainnya, sudah tentu tidak lepas dari pengawasannya. Seorang yang jatuh cinta, walaupun tidak di utarakan kepada orang dicintai sudah tentu itu mengetahuinya. Sehingga cukuplah Allah yang tahu rasa ini, karena Allahlah yang mampu membolak-balikkan rasa.

Suatu ketika saya membaca sebuah novel karya Habiburahman El Shirazy, yang sering disapa kang Abik, dengan judul novel yaitu Ketika Cinta Bertasbih. Novel yang mengisahkan seorang mahasiswa Al Azhar Kairo yang berjuang menuntut ilmu pengetahuan selama sembilan tahun lamanya. Dia adalah Abdullah Khairun Azam.

Di negeri Fir’aun, bukan hanya ia belajar, namun ia pula berbisnis tempe. Berhari-hari ia habiskan berbisnis demi mengirim uang untuk menafkahi keluarganya di tanah air. Pada akhirnya ia jatuh cinta dengan seorang wanita yang bernama Ana Al Fatunisa. Anak semata wayang pemilik pesantren, cantik, cerdas dan sholeha.

ali bin abi thalib
Gambar oleh Bing N. dari Pixabay

Baca Juga: Ada Cahaya di Atas Cahaya

Ketika ia mendengar cerita dari temannya, ia langsung mencoba melamar Ana Al Fatunisa melalui pamannya. Namun lamarannya ditolak karena Ana telah dilamar oleh temannya yaitu Furqon. Akhirnya cintanya ia simpan dengan ikhlas. Suatu ketika ia hendak berbelanja tempe.

Tiba-tiba ada mahasiswi dari Indonesia bertanya tentang toku buku Darul Qur’an. Ketika ia hendak pulang dari perbelanjaan, ia melihat kedua mahasiswi tersebut menangis, disebabkan kehilangan dompet. Disinilah jiwa Azam tersentuh untuk menolong kedua wanita itu. Mereka mengejar bus itu, sehingga menemukan beberapa buku yang tertinggal di dalam bus.

Baca Juga:  Bila Mencari Jodoh Tak Kunjung Datang, Intropeksi Dirilah

Ia berharap wanita itu lebih cantik daripada Ana Al Fatunisa yang dilamar oleh temannya Furqon. Namun pada akhirnya ia mendapatkan kenyataan, bahwa wanita yang ia pernah bertemu itu adalah Ana Al Fatunisa, ketika ia hadir disebuah seminar yang menjadi moderatornya yaitu Ana Al Fatunisa.

Namun hati mereka bergetar, ketika pertemuan pertama. Rasa itu mereka jaga dengan kesucian cinta, rasa yang cukup di tahu oleh Allah SWT.

Pada akhirnya Allah menggagalkan rumah tangga Ana Al Fatunisa dengan Furqon, lalu mempertemukan Azam dengan Ana Al Fatunisa dalam sebuah rumah tangga yang indah. Rasa yang dijaga, rasa yang dilindungi dengan indah, rasa yang bertahun-tahun saling mengharapkan. Pada akhirnya Allah menjawab rasa itu dengan bahasa cinta. Bukankah hanya Allah yang menyatukannya dengan indah.

cukuplah allah
Allah. The name of the God in arabic language. (Photo by: Godong/Universal Images Group via Getty Images)

 

Baca Juga: Golongan Mana Yang Masuk Surga?

Bila rasa telah terjaga dan cukuplah Allah yang mengetahuinya dan kita hanya berharap Allah yang memberikan yang terbaik dengan skenerio terbaiknya, pasti semuanya akan terlihat indah. Agar kelat Allah akan mempertemukan kita dalam bahtera rumah tangga cinta. Bukankah rasa indah akan dikeluarkan pada saat tepat pada waktunya, akan terlihat indah.

Senandung jiwa menyatu dalam dekapan. Suatu ketika Fathimah Azzarah mendekati Ali bin Abi Thalib. Usai menikah hati berdebar-debar, tak satupun yang bisa menangkap debaran apa, melainkan Allah dan sang pemilik hati yang berdebar mengetahui makna itu. Hati Ali berdebar ketika bertemu dengan sang kekasih yang telah lama ia rindui. Ia simpan rasa itu dengan indah, ia tahu cukuplah Allah yang mengatur hal itu. Insya Allah, skenarioNya akan lebih indah

Suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada Ali,”Maafkanlah aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”

Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Dan siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata,”Ya, karena pemuda itu adalah dirimu” ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.

Kemudian nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fathimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkan dengan maskawin empat ratus Fidhah (dalam nilai perak) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah Saw mendoakan keduanya: “Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua. Membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183,bab 4)

Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *