Cinta Di Pohon Cengkeh

0 3,314
Loading...

9000Pagi yang indah memancarkan sinar yang cerah. Sinar yang akan dapat menghangatkan tubuh yang beku. Tubuh yang hampir rubuh, tubuh yang hanya dapat berdiri tegak namun perlahan-lahan tubuh itu akan terjatuh ke tanah. Dan entah siapa yang akan memberikan energi yang positif sehingga tubuh dapat bangkit dari keterpurukan.

Risman termenung tepat di bibir pantai. Ia melihat perahu kecil menerobos anak ombat yang menerpanya. Dan kemudian ia bangkit menuju sebuah kapal yang sedang di buat tepat di bibir pantai. Ia segera mengambil HPnya dari kantong celananya, untuk menelpon sang kekasih yang tidak berapa lama lagi akan menjadi milik orang lain. Ya sang kekasih yang dapat membuat ia semangat menempuh pendidikan di kota pendidikan. Kota yang menjadi inspirasi buat kota-kota yang lain.

Kota yang berjejer ratusan penerbit buku. Kota itu menjadi saksi ketika ia bahagia, dan sekaligus menjadi saksi ketika ia galau memendam rasa. Rasa yang telah lama dia jaga, rasa yang telah lama dia rawat dengan sebaik-baik penjagaan. Namun rasa itu mulai hancur di siram dengan airmata kepedihan.

Beberapa kali ia mencoba menelpon kekasihnya, namun tak satu pun suara yang terdengar dari HP genggammnya. Suara itu tidak muncul lagi, jujur dia sangat merindukan suara itu. Suara yang telah mampu menguatkan tulang belulangnya yang hampir patah dan suara yang dapat membangkitkan dirinya ketika dia terpuruk, suara yang akan mampu mengalirkan aliran darah yang hampir bekuh. Suara yang mampu membawa semilir angin kerinduan.

Sudah empat kali dia menelpon, bahkan hampir dia berputus asa. Ia mencobanya lagi, sehingga tujuh kali, baru suara itu muncul. Suara yang telah dia tungguh berjam-jam untuk mengutarakan isi hatinya yang paling dalam. Dan sekaligus menanyakan kepastian semilir informasi yang dapat menyayat hati yaitu informasi bahwa kekasihnya sudah di lamar oleh orang lain.

 

Baca Juga: Serangga Yang Paling Mematikan Di Dunia

“Assalamu alaiku warahmatulahi wabarakatuh. Maaf ini dengan siapa ya?,” Tanya April agak kebingungan dengan nomor yang tidak dia ketahui.

“Maaf telah mengganggumu, saya dengan Risman,” jawab Risman agak bingun dengan tindakan April yang tidak lagi menyimpan nomornya dan sekaligus tidak mengenal suaranya lagi.

“Oh Risman, maaf ya. Saya udah hapus nomormu, karena saya akan dilamar oleh seseorang yang tidak pernah saya harapkan. Sebenarnya laki-laki yang saya harapkan yaitu laki-laki yang saya dengar suaranya hari ini. Dulu suara itu dapat mengilangkan capehku, namun sekarang suara itu telah mengiris seluruh nadiku. Ia telah berjanji kepadaku setelah selesai kuliah dia akan datang kerumahku untuk melamar diriku, namun janji itu hanyalah janji, sehingga ketika ada seorang laki-laki yang datang kerumahku, ayah dan ibuku langsung menerima lamaran itu. Awalnya saya masih mempertahankan bahwa laki-laki yang saya cintai dia akan datang pada bulan depan. Namun dari beberapa bulan, laki-laki itu tak kunjung datang. Sehingga orangtuaku mengatakan kepadaku bahwa laki-laki itu telah membohongiku. Saya pasrah dengan keputusan mereka, pada akhirnya di terima laki-laki itu dengan hati yang pedih. Hati yang beku, hati yang duka, dan hati yang membawa luka.”

Mendengar hal itu Risman tak sekata pun berkata, ia menarik nafas perlahan-lahan untuk mengumpulkan energy demi mengucapkan beberapa kata. Dan bahkan kata itu tak akan terulang kembali.

“Maafkan saya dik, bukankah kita telah berjanji, tahun depan baru saya datang melamar dirimu, bukankah kemarin kita telah berjanji, setelah saya selesai kuliah saya mencari pekerjaan dulu selama satu tahun, setelah itu saya akan datang kerumahmu dengan membawa semilir cinta kerinduan demi menyatuhkan diriku dan dirimu. Sudah lupahkah engkau tentang janji kita, sudah lupakah engkau, ketika engkau menyanggupi janji itu, ketika saya mengantarmu di Super Jet menuju Kendari. Sungguh saya kecewa sama kamu.”

Nafas kepedihan menyayat di kerongkongan perlahan-lahan mengiris kehati. Diam ya hanya diam. April tidak mampu membalas sanggahan dari Risman.

“Jujur Risman, saya tidak lupa sama janji yang kita buat pada waktu itu. Namun sebelum lamaran itu tiba. Saya mencoba menelponmu beberapa kali, nomormu selalu tidak aktif, saya menunggumu dua minggu di Kendari, namun kabar darimu tak kunjung datang. Disitulah saya mulai berfikir engkau telah membohongi diriku dan engkau menghilang dari kehidupanku. Risman saya wanita, saya takut bila saya menungguhmu dan ternyata engkau membohongiku, maka ujung-ujungnya saya tidak akan kunjung menikah disebabkan usiaku telah lanjut”

Benci bercampur haru, tak terasa airmata terjatuh ketanah, ia tidak menyangkah kekasihnya telah menghiananti dirinya.

“Ah itu alasanmu saja, tidak mungkin seorang laki-laki datang kerumahmu untuk melamar dirimu sebelum ada persetujuan darimu. Sungguh kejam dirimu, ketika engkau memanggilku datang kekampungmu, saya datang dengan penuh semangat. Walaupun saya harus melewati lautan Jawa, gunung Bawakaraeng untuk datang kekampungmu. Tapi sungguh kejamnya engkau tidak menghargai perjuangangku dan malahan sekarang saya mendengar kabar kepedihan, bahwa engkau akan segera menikah dengan laki-laki pilihan orangtuamu. Sungguh kejam dirimu. Saya tidak menyangkah bahwa engkau seperti itu, engkau seolah-olah membunuhku secara pelan-pelan, mengiris-ngiris jantungku dan sekaligus jantung itu kamu panggang di bara api yang menyala demi kamu santap, bersama calon suamimu. Sungguh kejam dirimu, tapi karena cintaku padamu dilandasi dengan keikhlasan, saya akan bahagia bila engkau tersenyum di pelamina nanti bersama dengan pilihan orangtuamu, walaupun jujur hatiku sangat hancur.”

Mendengar hal itu, April menangis terseduh-seduh. Ia tak mampu lagi menahan bara api kepedihan dari kata-kata Risman.

“Maafkan saya Risman, Maafkan saya risman, sedikitpun saya tidak bermaksud menyakitimu. Namun inilah sebuah takdir, walaupun kita berjuang memperjuangkan cinta kita, namun bila takdir tidak berpihak kita untuk berjodoh. Maka kita tidak akan berjodoh”

“Jujur kini bayanganmu menghantuiku, bayanganmu seolah-olah hadir ketika saya melihat pohon yang daunnya biru, seolah-olah saya mengingat ketika kita dulu memetik buah cengkeh di gunung Peri, dan gunung D’ai. Ketika engkau menungguh di bawah pohon, sedangkan saya menjatuhkan tangkai demi tangkai buah cengkeh kepadamu.”

Airmata membanjiri pipih April, ia tidak menyangkah bahwa Risman mengingat hal itu, mengingat masa lalu kisah cinta mereka. Dan hanya kata maaf yang terucap di bibir bidadari mungil yang cantik, dibaluti jilbab warna biru mudah sehingga dapat memancarkan sinar kebahagian, namun sinar itu menjadi sinar kepedihan buat kisah cinta mereka.

“Kapan pesta pernikahanmu?

“Insya Allah kak, minggu depan saya akan menikah.

“Oh ia saya akan datang kepesta pernikahanmu. Walaupun jujur itu menyakitkan buat diriku. Tapi inilah cinta sejati dik, saya rela melepaskan kamu dik bersama dengan orang lain. Walaupun jujur di dalam diriku masih ada sifat ketidakikhlasan ketika engkau bersanding dengan orang lain”

 

****

Rebana mulai bersahutan, shalawat mulai memecah gemuruh gelombang pantai yang berkejar-kejaran. Tape mulai di kerasin, perlahan-lahan mulia di turunkan volumennya. Para undangan mulai berdatangan, dari masyarakat kecil, masyarakat menengah bahkan para penjabat kabupaten sempat hadir.

Tenda biru mulai melengkung di teras rumah. Bukan hanya itu tenda itu juga terpasang di jalanan. Tenda yang panjang untuk di sediakan para tetamu. Usai melaksanakan ijab qabul, kedua pengantin segera menuju tempat singganasa yang didekorasi dengan arnamen-ornamen indah. Bunga-bunga mawar yang menjadi hiasan singgasana, mulai terlihat mekar, indah dan menawan.

April dan suaminya memekarkan senyummnya, begitupulah para orangtua mereka yang mendampingi kedua mempelai. Satu persatu undangan mulai antrian memberikan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan selamat mulai bersahutan satu demi satu.

“Selamat ya atas pernikahannya, mudahan cepat dapat momongan dan menjadi keluarga yang bahagia, mawadah, warahma dan sakinah.

Mendengar hal itu April ternyum manis, seorang wanita yang cantik jelita, yang memakai jilbab desainer ala pengantin ratu Cleopatra. Tape mulai di naikkan volumennya. Suasana semakin riang, usai memberikan salaman, para tamu langsung menikmati masakan yang lezat menggugah lidah. Usai makan, para undangan satu persatu meninggalkan tenda. Lagi dua puluh menit kedua mempelai akan segera meninggalkan singgasana. Tiba-tiba nampaklah seorang lelaki yang mengenakan baju batik, indah, gagah dan bersahaja.

Dari kejauhan April bergetar hatinya melihat sosok yang tidak asing buatnya. Dia adalah laki-laki yang pernah ia rindukan, laki-laki yang pernah ia doakan di setiap penghujung sholatnya, dia adalah laki-laki yang ia harapkan, ya laki-laki yang selama ini dia cintai.

Ia tidak menyangka bahwa laki-laki itu datang ke pesta pernikahannya. Ia tahu persis bahwa laki-laki itu berdiri tegak, ganten, dan memekarkan senyummnya kepada kedua mempelai, namun didalam dirinya telah hancur. Ya hancur, ia seolah-olah merasakan hal itu. Namun apalah daya dan upaya, bila takdir telah mendahului, maka seluruh rencana yang di susun akan buyar sendiri.

Risman mulai mendekati singgasana, hati mulai berguncang, keringat mulai sedikit berkecucuran. Denyut jantung semakin menit semakin cepat, seolah-olah denyut itu sedang berzikir, ya berzikir agar sang pemilik denyut dapat berdiri kokoh ketika hendak bersalaman dengan kekasih lamanya, namun kini menjadi milik orang lain.

Senyum yang mekar mulai terasa layu, bibir yang merah seperti buah delima mulai terlihat pasih. Tak terasa airmata jatuh kepipih. Pedih bercampur bahagia. Kadang bahagia ketika melihat suaminnya, namun ketika melihat sosok yang mendekat memberikan ucapan selamat, ia seolah-olah telah menzalimi orang lain, yang mencintainnya dengan ikhlas.

Sedangkan Risman tak menyangka bahwa yang menjadi suami orang yang perna singga di hatinya yaitu teman akrabnya di waktu kuliah dulu di kota Berbudur. Ia segera memberikan selamat kepada April dan kemudian ia segera memeluk suami April, sambil mengucapkan selamat.

 

“Selamat ya akhi, mudahan cepat dapat momongan. Oh akh kutitip bunga mawar yang mekar kepadamu dan saya berharap janganlah engkau membiarkan layu, dan jagalah dia sebagai kekasihmu yang akan bakal menemanimu di dunia maupun kelat di akhirat nanti,” bisik Risman kepada sahabat kuliahnya dulu.

“Akh saya minta maaf akh, saya nda tahu bahwa ternyata wanita yang kamu ceritakan kepadaku, dan engkau tidak menyebut identitasnya, ternyata wanita itu adalah istriku ini. Saya minta maaf ya akhi saya tidak mengetahui hal itu”

“Inilah takdir kehidupan akhi, kita yang merencanakan namun Allah Jualah yang menentukan, apakah kita berjodoh atau tidak. Namun tetap kita harus bersyukur dibalik kejadian ini pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Dan insya Allah, Allah telah menyiapkan diriku dengan wanita yang lebih baik. Wanita itu yaitu adikmu sendiri, insya Allah saya siap untuk menjadi pendamping adikmu, berhubung sesungguhnya adikmu telah lama menyampaikan hal ini kepadaku melalui surat yang dia tulis. Namun karna saya mengharapkan wanita yang ada di sampingmu, maka surat baru saya balas. Dan sebentar sore saya datang kerumahmu untuk melamar adikmu, bagaimana akh?

Diam, kaget, penuh tanda tanya. Ia tidak menyangka bahwa selama di Jogja adiknya mempunyai perasaan cinta kepada sahabatnya itu.

“Itu suatu kebahagian buat diriku, itu suatu kehormatan buat diriku. Saya tidak menyangka hal ini akan terjadi. Insya Allah, rumah kami terbuka pintunya dengan lebar untuk menyambut sang pangeran cinta yang di tinggal kekasihnya, namun kini sekarang mendapatkan kekasih yang baru. Dan insya Allah itu halal baginya dan dia halal bagimu.

Kemudian mereka berpelukan, airmata kebahagian terjatuh ketanah. Tanah tersenyum, bunga mawar tersenyum manis. Singgasana berzikir, ya berzikir kepada dua orang sahabat yang saling mengikhlaskan karena Allah taala.

SEKIAN

Loading...
Comments
Loading...