Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Detik-Detik Pelantikan Presiden

2 min read

DETIK-DETIK PELANTIKAN PRESIDEN

Pemilihan presiden telah usai. Penetapan dari Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia telah mengumunkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Walaupun kemenangan itu masih ada pro dan kontranya. Sedangkan yang kontra telah melakukan upaya hukum di Mahkamah Konsitusi, namun di tolak gugatannya. Kecewa emang kecewa, namun inilah demokrasi. Demokrasi itu, harus siap menang dan harus siap kalah.

 

Bila ada orang yang ingin berdemokrasi, lalu tak siap kalah, lebih baik tak usah berdemokrasi. Karena dalam demokrasi harus ada pemenangnya, sehingga dia ditetapkan sebagai pemimpin. Entah dia mengikuti aturan demokrasi atau justru melanggar demokrasi, semuanya mempunyai prosedur.

Bila yang kalah, lalu tidak menerima kekahalahnya, maka tempuhlah jalur hukum. Namun bila kalah lagi di jalur hukum, maka kita harus belajar legowo. Karena sampai kapan pun, hukum akan selalu salah, dimata orang-orang yang kalah. Dan demikian pula sebaliknya, hukum akan selalu benar, walaupun salah, dimata orang yang menang.

Inilah konsikuensi dalam berdemokrasi. Menang dan kalah merupakan takdir dalam berdemokrasi. Bagi teman yang ingin mengikuti pesta demokrasi, janganlah engkau menganggap lawanmu sebagai musuh. Karena musuh dan lawan mempunyai perbedaan sangat mendasar. Lawan saling mengadu gagasan dan tindakan, serta meningkatkan kualitas di antara keduanya. Namun bila musuh yaitu saling menghabisi. Dalam proses demokrasi, lawan bukanlah musuh, tapi lawan tetaplah lawan. Contohnya lawan tanding sepakbola. Bukan musuh tanding sepakbola.

Sebentar lagi presiden kita akan dilantik. Lebih dan kurangnya itulah presiden kita. Jujur, setiap presiden yang memimpin Indonesia, sudah tentuh ada kelebihan dan kekurangannya. Karena inilah kodrat manusia. Presiden akan selalu kelihatan salah di mata orang-orang yang tidak menyukainya, walaupun dia akan bertindak benar dalam memberikan kebijakan. Demikian sebaliknya, presiden akan selalu benar, dimata para pendukungnya, walaupun mungkin sang presiden bertindak salah.

Baca Juga:  UUD KUHP Menyapa Ratu Empat, Pantai Lagunci

Itulah demokrasi, nilai plus dan minusnya pasti ada. Namun kita sebagai warga negara yang baik, haruslah mendukung kebijakan pemimpin yang benar, walaupun kita tidak menyukai pemimpin itu. Namun kita wajib memberikan kritik dan saran yang membangun kepada pemimpin kita, walaupun pemimpin itu yang paling kita cintai. Karena kritik dan saran sangatlah dibutuhkan dalam pengelolaan sebuah negara.

Negara Indonesia adalah negara yang besar. Ribuan pulau yang terbentang dari Barat ke Timur. Ada puluhan bahkan ratusan suku mendiami negara ini. Bermacan-macam karakter yang sering kita jumpai. Namun harus kita bersatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika

Jokowi adalah presiden kita. Walaupun mungkin sebagian orang tidak menyukainya. Namun dia lah presiden kita. Tugas kita sebagai warga negara Indonesia, jadilah sebagai warga negara yang baik. Karena berkembangnya suatu negara, tidak selamanya di pengaruhi oleh kebijakan presiden. Namun keberhasilan suatu negara akan dipengaruhi oleh saling mendukungnya antara rakyat dan presidennya. Presiden sebagai nahkoda dalam sebuah negara. Sedangkan rakyat sebagai ABKnya dan penumpangnya.

Kapal bahtera Indonesia akan berjalan dengan baik, bila nahkodanya mengarahkan bahteranya di tujuan yang di inginkan bersama. Sedangkan ABKnya haruslah mampu memahami apa yang di arahkan oleh nahkodanya, dan kewajiban sang penumpang yaitu menjadi sang penumpang yang baik dan tertib. Apabila saling mendukung antara yang satu dengan yang lainnya. Maka kedepannya kita akan mampu menjadikan Indonesia sebagai negara macam dunia, dan bukan lagi macam Asia.

Yuk, marilah kita bersatu. Karena bersatu kita teguh, dan bercerai kita runtuh. Indonesia adalah kita, dan presiden adalah kita. Bila kata “kita”, kita tempatkan dalam sanubari kita yang paling dalam. Maka Indonesia akan menjadi negara yang damai. Namun bila kata “KITA” kita ganti dengan kata “KAU” maka akan ada saling melecehkan dan menfitnah dalam suatu negara yang damai. Oleh karena itu, marilah kita sukseskan pelantikan presiden. Ya presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin demi melanjutkan pemerintahannya ke jilib yang kedua. Mudah-mudahan kesehatan pak Jokowi dan Ma’ruf Amin akan selalu terjaga, demi memberikan kebijakan yang terbaik dalam pengelolaan negara indonesia. Amiin robil alamin

Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *