Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Filosofis Pisang

2 min read

FILOSOFIS PISANG

Engkau tahu kan pohon pisang? Yang selalu di makan monyet atau bayi yang masih kecil. Bahkan di jadikan sebagai pisang goreng yang di sukai oleh anak mudah sambil nongkrong di warung kopi untuk mendiskusikan suatu permasalahan, baik organisasi maupun yang lainnya. Tapi teman banyak orang yang menikmati pisang tersebut. Namun mereka tidak mengetahui filosofis pisang itu. Kira-kira menurut anda apa sih filosofis pisang yang bisa kita petik?

banana

Baca Juga: Cemburu Nya Allah Ta’ala

Bukankah Allah menciptakan seluruh alam, beserta isinya mempunyai makna. Namun kadang kita tidak mengetahui makna ciptaaNya. Melainkan orang-orang yang menggunakan pola pikirnya yang mengetahui makna setiap hamba Allah yang DIA ciptakan. Sebagaimana firmaNya.

Terjadinya bergantinya siang dan malam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berfikir (Q.S Al-Imran ayat 190)

Seperti pohon pisang , di mana pun dia berada selalu tumbuh dan berbuah, tak mengenal masa dan tak gampang menyerah. Begitu di tebang ia akan tumbuh lagi dan terus tumbuh. Baginya kematian itu tidak di hadapi dengan kepasrahan tapi di siapkan dengan menumbuhkan pohon dan buah yang baru.

Dalam artian, dalam hidup ini kita harus lebih kreatif untuk menciptakan hal-hal yang dapat berguna bagi siapa saja. Agar kita tiada/meninggal dunia kita akan dikenal orang melalui karya kita. Sehingga, mereka dapat menggunakan karya kita untuk mengembangkan dirinya. Inilah yang sering di sebut amal jariyah. Walaupun kita tidak melakukan amal lagi di dunia, tapi karya yang kita produksi akan selalu mencari amal untuk membantu meringankan dosa-dosa yang kita perbuat.

Maka itu, marilah kita belajar memahami di balik filosofis pohon pisang. Sehingga kita tidak akan membiarkan diri kita tidak beramal sama sekali. Berhubung pisang akan selalu menumbuhkan generasi-generasi berikutnya demi kelangsungan ekosistem nya.

Baca Juga:  Menikah lah, Maka Rezekimu Akan Dikupkan

Sesungguhnya kematian bagi pohon pisang, bukanlah kematian sia-sia, namun dia telah menyiapkan generasi yang baru untuk meneruskan perjuangan dalam memberikan pelayanan terhadap manusia. Sehingga matinya pisang, bukanlah mati sebenarnya, melainkan mati untuk hidup. Sebagaimana Allah gambarkan di dalam ayatnya.

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah,(bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”(Q.s Al- Baqarah (2):154).

Bila kita telah mengambil peran itu, maka kematian tidak perlu di sesali lagi, justru di rindu kan. Karena kita mati bukanlah mati sia-sia, justru kita mati untuk hidup. Agar kita bisa menantikan saat-saat terindah bertemu dengan sang kekasih tertinggi yaitu Allah SWT. Karena titik terakhir dari perjalanan manusia yaitu bertemu nya manusia dengan Allah SWT.

Bila kita telah bertemu dengan Allah, maka seluruh beban kita yang pernah kita pikul di dunia akan terasa ringan. Bahkan kita akan merasa tidak mempunyai beban sama sekali. Karena cahaya Illahi dapat mengobati seluruh kegundahan kita. Sehingga janganlah merasa ragu dengan apapun yang di janjikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Berhubung itu akan benar-benar terjadi dan bukan bohong-bohongan.

memberikan manfaat kepada orang lain

Baca Juga: Ada Rahasia Dibalik Tujuan Ibadah

Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada(pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)”(Q.s Al- Ahzaab (33):23)

Iman syafi’i pernah mengatakan, jadilah kamu pribadi yang unik.

Menangis saat engkau di lahirkan walaupun orang tersenyum ketika engkau lahir dan tersenyumlah pada saat engkau tiada walaupun orang menangisi engkau, karena engkau akan meninggalkan mereka selama-lamanya.

Baca Juga:  Harapan Pudar - Motivasi

Sehingga yang terpenting dalam kehidupan ini menurut Iman Syafi’i yaitu, marilah kita menjadi pribadi yang selalu memberikan manfaat kepada sesama. Karena manusia yang baik adalah manusia yang selalu memberikan manfaat kepada orang lain.

Sebagaimana pisang, yang rela mati demi memberikan manfaat kepada orang lain. Bahkan dia siap akan tumbuh di mana pun dia berada, demi menjadi pelayan buat manusia. Sungguh setia mahluk Allah ini, yang setia kepada tuannya dan tidak membebankan dan menyusahkan tuannya.

pilang

Bukan hanya buah yang bisa di manfaatkan. Namun daunya juga bisa bermanfaat. Daunya bisa kita gunakan sebagai payung pada saat turun hujan. Inilah pisang, yang mempunyai banyak manfaat, namun tidak membuat dirinya sombong. Bahkan ia hidup sederhana dan siap menumbuhkan generasi berikutnya, apabila telah di tebang. Maka marilah kita berperilaku seperti pohon pisang. Agar kehidupan kita dapat bernilai ibadah.

Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *