Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Harapan Pudar – Motivasi

1 min read

Harapan Pudar - Motivasi

Dikejauhan aku berdiri, pandanganku menerobos hembusan angin. Imajinasiku melambung tinggi memecah cakrawala. Lambaian angin itu seolah-olah engkau hadir. Kupejamkan mata ini, perlahan-lahan engkau hadir penuh senyuman yang indah. Tanganmu membelai rambutku yang mulai kusam tak di jama sisir.

Pancaran sinar matamu membelah denyut jantungku. Perlahan-lahan jantung itu berdetak kencang. Entah kenapa, mulutku tanpa mampu berucap. Kaku rasanya, antara rasa benci dan cinta menyatu. Aku ingin memberontak tapi aku tak mampu. Pikiranku lumpuh, rasa cintaku telah mampu menghayutkan penghianatan.

Dulu engkau pandai menabur benih bunga mawar. Perlahan-lahan bunga itu tumbuh indah. Indah di pandang mata. Aku ingin mengenggamnya dengan erat. Namun semakin kugemggam mawar itu, tanganku perlahan-lahan memerah. Oh sakitnya. Dibalik indahnya, ada duri-duri yang menjulang tajam.

Aku tak tahu hal itu, aku terhanyut dengan indahnya kembangnya. Sehingga aku lupa, dibalik indahnya ada balutan duri. Bila tak pandai di genggamnya. Kini aku mulai sadar, balutan indah wajahmu tak selamanya mencerminkan hati yang lembut. Indah di luar belum tentuh indah di dalam, itulah kata pepatah.

dibalik indahnya ada
Gambar oleh Kant Smith dari Pixabay

Baca Juga: Ku Kejar Mimpi Jadi Bintang – Cerpen

Kuterngiang kata-kata manismu. Engkau tak akan mendua, tapi akan menyatu. Kini engkau hadir dihadapanku lalu berbisik ingin menyatu. Namun bukan aku, tapi dia. Selembar kertas engkau bungkus dengan rapi. Lalu engkau memegang tanganku penuh maaf. Engkau sodorkan kertas itu dengan senyum yang indah.

Ukiran wajahmu memerona, aku pun tersenyum dibalik hati yang kalu. Ingin rasanya kurobet kertas itu. Namun aku tak ingin melukaimu. Cintaku bukan untuk membenci, tapi untuk mencintai. Kukumpulkan tenaga ragaku. Imajinasiku mulai melukis kisah indah itu. Indah emang rasanya, bila waktu diputar kembali. Seandainya kisah itu bisa di putar kembali bak kaset yang sedang di putar dalam tape. Maka akan kuputar kembali, lalu kuhapus sebagian, sehingga tak ada lagi sepucuk surat engkau dan dia. Namun surat itu akan jadi aku dan kamu menjadi kita.

Baca Juga:  Godaan Terbesar Dalam Mencari Jodoh

Tapi itu amatlah terlambat. Waktu yang telah pergi tak akan kembali datang. Namun akan datang kembali bukan waktu yang sama dengan yang dulu. Dia akan datang ketika kamu akan menjadi kalian, sedangkan aku tetap akan menjadi aku, bukan kita.

Bagiku, inilah kisah yang di ukir dari bongkahan serpihan batu. Dulu aku pernah berucap, hanya tiga cara membungkam bibir yang jahil penuh gossip. Satu yaitu aku menikah. Dua yaitu kamu menikah. Dan ketiga yaitu kita menikah. Aku ingin yang ketiga, namun takdir berkata lain.

Kini engkau mulai mengukir lukisan hidupmu dengan penuh cinta, tapi bukan aku. Namun dengan pangeranmu yang di takdirkan tuhan. Walaupun takdir kadang datang menyakitkan. Dan aku pun mulai mengkumpulkan serpihan-serpihan kebahagiaan yang tersisa untuk dilukiskan dalam secarik kertas putih yang mulai rapuh.

Belaian yang indah perlahan-lahan mulai sirna. Imajinasi yang manis mulai terasa hambar. Akan kusimpan sepucuk suratmu dan sepucuk harapanku yang tak akan pernah terjadi. Bukankah kosekuensi sang pengharap hanya ada dua yaitu bila terkabul hati akan bahagia. Namun bila tak terkabul hanya pasrah dan ikhlas yang perlu dilakukan.

Yuk semangat berjuang sang pencinta. Jangan menyerah ya!!!!

Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *