Hidup Seperti Secangkir Kopi

  • Whatsapp
kopi

Hidup kita di ibaratnya secangkir kopi. Bila kopinya terlalu banyak daripada gula, maka secangkir kopi akan terasa pahit. Justru itu butuh keseimbangan antara jumlah kopi dengan jumlah gula, agar secangkir kopi terasa nikmat. Terlalu banyak gula, kopi tidak akan mampu mengimbangi demikian sebaliknya.

Read More

Apabila kopinya terlalu banyak daripada gulanya sudah secara otomatis kopinya akan terasa pahit. Karena kopi secara kodratnya terasa pahit. Justru itu janganlah engkau menyalahkan kopinya. Namun kita di tuntut untuk menyeimbangi kopi dengan gula. Agar kopinya terasa nikmat.

Dalam kehidupan manusia sering terjadi seperti itu. Antara kopi dan gula kadang tercampur dengan baik dan terkadang saling mengalahkan. Ketika saya mengatakan kopi adalah hal yang buruk dan gula adalah hal yang baik. Jadi gula harus mengungguli kopi menjadi berkah. Tidak persis sama. Ya, keduanya seimbang. Suatu hari berbuat baik dan satu hari melakukan hal buruk. Memang, memang, kita termasuk yang kalah.

Bila kopinya lebih banyak daripada gula, sesungguhnya kita termasuk orang-orang yang celaka. Maka imbangilah kopi dengan kelebihan gula, sehingga kopinya terasa manis. Bukankah kopi yang terasa manis sesungguhnya gula yang mengunggulinya.

cerpen secangkir kopi

Bila kopi adalah keburukan dan gula adalah kebaikan. Maka apabila gula mengungguli kopi, sesungguhnya kita akan dikelompokkan termasuk orang-orang yang beruntung. Lalu dalam hati kita bertanya, kenapa kita tidak menggunakan gula saja, tanpa kopinya. Bukankah itu lebih baik lagi. Ya itu lebih baik, namun itu hanya terjadi di imajinasi saja. Karena di dalam kehidupan sudah tentuh kopi tidak akan pernah terhapus. Karena kopi akan selalu hadir untuk mengungguli gula. Demikian pula keburukan sudah tentuh akan selalu hadir menghantui kita, justru itu perbanyaklah kebaikan, sehingga potensi datangnya keburukan akan semakin berkurang.

Baca Juga:  Pagi Di Rumput Laut

Baca Juga: Stop! Jangan Baper Dulu, Kekasihmu Yang Kamu Cintai Itu Suatu Saat Akan Kamu Benci

Ketika kopi seperti kata-kata buruk atau bullyans dan gula adalah kata-kata yang baik. Kemudian lawan kopi itu dengan menambahkan lebih banyak gula. Jadi energi buruk yang dikeluarkan orang lain adalah energi positif. Ketika kita mengubah pelaku intimidasi dengan kata-kata bijak, itu tindakan terbaik. Tuhan itu sempurna dalam menciptakan makhluk-Nya. Menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut. Karena Tuhan tahu kedua telinga bisa menyeimbangkan satu mulut.

Dalam kehidupan manusia, kadang kita banyak menemukan orang-orang yang banyak berbicaranya daripada mendengarnya. Padahal bila kita mampu praktekan. Haruslah lebih banyak mendengar daripada berbicara, apabila bicaranya tidak bermanfaat. Justru itu, nabi kita menyuruh lebih baik diam, daripada mengeluarkan kata-kata tidak beretika. Apalagi kata-kata itu lebih banyak bullyan dan fitnanya.

sendirian di malam hari

Sunggu kuteringat firman Allah yang membuat kita harus berintropeksi diri terhadap mulut kita.

Dan orang-orang yang melukai orang-orang percaya dan orang-orang beriman tanpa kesalahan, mereka benar-benar menanggung kesalahan dan dosa. (QS. Al Ahzab: 58)

Lalu balasan yang mendapatkan gunjingan yaitu ia mendapatkan transfer pahala dari orang yang melakukan gunjingan. Sebagaimana dengan hadis Nabi SAW,

Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”
Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut dikalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta/barang.

Utusan Allah (semoga damai besertanya) berkata: “Sungguh, bangkrutnya umat-Ku adalah mereka yang datang pada Hari Pengadilan dengan pahala sholat, puasa, dan sedekah. Tetapi dia juga datang dengan dosa. Dia menghujat orang ini, menuduhnya tanpa bukti, menghabiskan hartanya, menumpahkan darahnya dan memukul orang itu. Karena itu, sebagai tebusan untuk ketulusannya, ia memberinya hadiah kebaikan kepada pria ini, si penyihir, dan pria itu. Sampai kebaikan yang telah dibagikan kepada mereka yang telah ditebus diambil, dan kejahatan yang dimiliki bangsanya sendiri, akan diambil darinya, dan ia akan dibuang ke neraka (HR. Muslim no. 6522)

Yuk marilah kita intropeksi diri, sehingga kelak di akhirat nanti kita tidak tergolong orang yang merugi. Semangaaaat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *