Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Kendari Love Story – Cerpen

7 min read

KENDARI LOVE STORY

Angin malam menghembus di sela-sela asrama kampus UHO Kendari, menyapa dedaunan membawa semilir angin kerinduan tiada tara. Di dalam asrama ada beberapa orang masih melakukan aktifitas mengerjakan tugas kampus yang harus di presentasekan esok harinya.

Arfan terdiam memikirkan sang kekasih yang di cintainya bertahun-tahun. Dia ingin sekali menghalalkan dirinya dengan kekasihnya dengan sebuah ijab qabul. Namun orangtuanya menginginkan dia menyelesaikan kuliah dulu.

iNSYA ALLAH

Baca Juga: ZIKIR CINTA DI PUNCAK GAMALAMA – CERPEN

Namun kejolak cinta itu semakin hari semakin membara, membakar api kerinduan yang tiada tara. Ia takut jangan sampai terjebak zina, dan ia takut bila cinta mereka telah ternodai dengan sesuatu yang di larang agama. Menurutnya cinta itu suci dan yang suci tidak sama dengan yang tidak suci. Bila zina tidak suci, sedangkan cinta itu suci, bagaimana mungkin sesuatu yang buruk akan melahirkan yang baik. Dan bagaimana mungkin sampah akan menjadi emas dan emas akan menjadi sampah.

Esok harinya ia mencoba menelpon kekasihnya, ia kuatkan dirinya dan ia tekatkan dirinya untuk segera menikahi kekasihnya yang baru semester lima, sedangkan ia semester tujuh. Namun sebelum menyampaikan keinginannya, terlebih dahulu dia berkonsultasi ke ustadnya.

“Pak ustad saya ingin konsultasi dan meminta petunjuk sama bapak, begini pak saya menyukai seorang wanita yang wanita itu merenspon hal itu dan saya menyampaikan perasaanku sebulan yang lalu. Namun setelah perasaan itu saya sampaikan, kini gejolak itu semakin membara. Awalnya saya merasa mungkin dengan menyampaikan perasaanku akan legah, namun ternyata tidak.

Malahan api kerinduan semakin membara, saya takut bila udah demikian, jangan sampai saya tidak mampu menampung kejolak itu. Maka saya berkeinginan untuk menikahinya. Dia anak didik ustad juga namanya Atikah,” tutur Arfan dengan penuh kejelasan.

Ustad itu terdiam beberapa menit dan kemudian menarik nafas secara perlahan-lahan.

“Emangnya dia mau menikah sama kamu dalam waktu singkat ini?, Tanya ustad itu.

“Saya juga belum tahu, apakah dia mau menikah dengan diriku atau nda, yang terpenting saya konsultasi dulu dengan ustad, setelah itu baru saya telpon dia untuk memastikan dia mau menikah dengan diriku atau nda.

“Oh ia bila begitu, kamu telpon dulu wanita itu, dan bagaimana kesimpulannya nanti.

Setelah konsultasi dia langsung menelpon Atikah, ia agak gugup mengutarakan isi hatinya yang paling dalam, walaupun melalui telpon. Jiwanya ragu apakah jadi dia menelpon atau justru tidak. Namun tekatnya semakin kuat bila ia mengingat permasalahan yang dialaminya.

HP Atikah berdering, dan segera ia mengangkatnya,”Maaf ada yang perlu saya bantu kak Arfan?”Tanya Atikah dengan nada lembut.

“Maaf dek mengganggu, sebelumnya kak minta maaf, kakak ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, tapi sebenarnya agak tidak enak saya menyampaikan hal ini melalui telpon, tapi jika kamu nda keberatan nda apa-apa juga.

“Emangnya ada apa ya kak, ada yang perlu saya bantu? Tanya Atikah penuh tanda Tanya.

“Begini dek, saya ini bingun mengerjakan tugas yang sudah lama saya pikirkan tapi belum menemukan solusi yang baik dik. Masalah ini yang membuat saya bingun, bahkan membuat kakak tidak bisa tidur, justru itu saya meminta bantuan kepadamu, jangan sampai kamu bisa membantuku. Karena tugas ini membutuhkan visi yang matang dan pertimbangan yang baik dan tepat, serta butuh komitmen yang kuat. Namun bila saya mengerjakan sendirian tugas ini maka aku terasa sulit, justru itu saya membutuhkan adik untuk kita bersama mengerjakan tugas ini,”Jelas Arfan

“Emangnya tugas apa ya kak?,” Tanya Atikah penuh tanda tanya, apa yang telah di paparkan Arfan.

“Aku meminta bantuan kepadamu untuk kita membangun rumah. Rumah yang kokoh dan mempunyai visi dan misi yang kuat, namun tanpa bantuanmu rumah itu tidak akan pernah terwujud.

“Emangnya rumah apa ya kak? Tanya Atikah tambah penasaran.

“Rumah yang ada tangganya, dan bila di gabungkan menjadi rumah tangga, yaitu rumah yang bakal ada penghuninya kelat, bukan hanya saya dan kamu tapi akan lahir generasi berikutnya, yaitu rumah yang beratapkan cinta dan bermisikan mawadah, warahma dan bervisikan sakinah.

“Maksud kakak apa, saya tambah bingun?

“Maukah kamu menjadi pendamping hidupku, demi membangun rumah tanggah yang baik, yang beratapkan cinta dan bermisi mawadah, warahmah demi mencapai visi sakinah. Dan kelat kamu akan menjadi ibu buat anak-anaku dan saya menjadi ayah buat anak-anakmu, maksudnya anak kita berdua.

Atikah diam dan terharu mendengar niat Arfan, namun apakah dia mau menikah dengan dirinya yang baru menginjak semester lima sedangkan Arfan baru semester tujuh.

Baca Juga:  Ada Cahaya di Atas Cahaya

mau menikah

Baca Juga: 10 Cara Menghasilkan Uang Secara Online

“Tapi kak saya baru semester lima sedangkan kakak baru semester tujuh, bagaimana bisa kita membangun rumah tangga, padahal kita masih kuliah kak. Bukankah nanti saya kelat akan menjadi tanggungjawab kakak, dan bagaimana bisa kakak membiayai kuliah kakak dan membiayai kuliah saya nanti?,” Tanya Atikah penuh kebingungan.

“Insya Allah dek, Allah yang akan menjawab hal itu, bukankah rezeki Allah yang atur dan kita hanya berusaha. Bukankah bila kita menikah karena mencari ridhonya, maka dia akan memberikan ridho itu dengan sebaik-baiknya ridho. Bukankah kamu percaya Al qur’an dan sayapun percaya Al qur’an. Dan tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang beriman dalam mempercayainya dan mengamalkannya. Insya Allah, Allah akan membukakan pintu rezekinya di pintu manapun. Sebagaimana firmannya,”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An Nuur 32) dik ayat inilah jawabannya, kakak yakin sekali. Insya Allah, Allah akan membukakan pintu rezekinya, asalkan kita mau berusaha.

Bingun, terharu sekaligus penuh tanda tanya. Apakah dia menerima tawaran yang di sampaikan oleh kak Arfan atau tidak. Sebenarnya ia juga mencintai kak Arfan, namun apakah dia bisa menjadi pendamping yang baik buat kak Arfan, dan menjadi istri yang baik buat kak Arfan berhubung dia masih kuliah. Bagaimana bisa dia membagi tugas kuliah dan tugas rumah tanggah.

“Bila begitu kak, saya sholat istiqorah dulu ya kak, insya Allah kesimpulannya nanti minggu depan. Sekaligus saya konsultasi dulu sama orangtuaku, apakah mereka restu saya menikah pada saat sementara kuliah. Justru itu kakak juga harus minta pertimbangan sama orangtua kakak ya, mudah-mudahan keputusan kita akan diridhoi oleh Allah SWT.

“Insya Allah dek, saya pasti akan komunikasikan sama orangtua kakak

KENDARI

Baca Juga: ANTARA AKADEMIK, ORGANISASI DAN CINTA

****

Malam yang penuh tabir bintang gemintang, angin sopoi mulai menerobos ventelasi jendela kos-kosan mahasiswa putri UHO. Atikah terbangun dibalik kegelapan malam, ia segera mengambil talkumnya demi melaksanakan sholat tahajud. Ia ingin memantapkan hatinya demi membina rumah tangga dengan Arfan. Ia sudah menelpon orangtuanya, dan orangtuanya mendukung apa yang di inginkan anaknya.

Baca Juga:  Nabipun Ditegur Karena Khilaf - Stop Membanggakan Diri

Orangtua Atikah paham betul apa yang di alami anaknya. Mereka tidak ingin anaknya terjerumus perzinahan, apalagih aborsi.

“Insya Allah ayah dan ibu mendukung nak, yang terpenting dia bertanggungjawab dan bagus ngajinya serta akhlaknya,”ucap Ayah atikah.

Malam itu ia merenung sekaligus meminta petunjuk kepada Allah agar hatinya di mantapkan untuk membina rumah tangga dengan baik. Ia berzikir penuh hikmat dengan tetesan airmata rasa haru. Laki-laki yang ia cintai kini akan segera menjadi pangerannya. Ya pangeran yang mengaduh cinta yang penuh berkah. Malam itu seolah-olah UHO menjadi saksi atas ketetapan hatinya. Usai sholat sunah tahajud dan sholat subuh ia segera menelpon Arfan.

“Assalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh, kak Arfan sebagaimana yang telah kita bicarakan beberapa minggu yang lalu. Insya Allah saya siap menyempurnakan sebagian agamaku bersamamu, insya Allah saya akan berusaha menjadi istri dan ibu buat anak-anak kita kelat dengan baik. Saya telah menelpon orangtuaku dan orangtuaku setuju dengan apa yang kita rencanakan berdua. Insya Allah saya ikhlas mendampingimu dan kamupun harus ikhlas mendampingiku kak.

Legah dan terharu mendengar Atikah siap menikah dengan dirinya, Arfan langsung mengucapkan syukur.

“Alhamndulillah robbil alamin, insya Allah dek saya sangat ikhlas menjadi penyempurna dirimu, dan saya sangat bahagia ketika adik mau menjadi bidadari didunia dan kelat akan menjadik bidadariku di taman surgaNya nanti. Kebahagianku sebagaimana kebahagian Adam as ketika Allah menciptakan pasangannya di surga. Dan kebahagianku insya Allah mengandung nilai ibadah dan cinta yang suci.

“Jadi kapan kita menikah kak?,” Tanya Atikah dengan penuh rasa bahagia.

“Insya Allah malam jum’at ini dek, di masjid kampus terdekat dan saya harap adik beritahu wali adik, bila orangtua adik nda sempat datang di pernikahan kita.

“Ia kak kebetulan adiknya bapaku kuliah di sini, dan dia sudah semester lima sama dengan diriku tapi dia jurusan tarbiyah di UMK. Nanti dia menjadi waliku, berhubung orangtuaku sekarang sedang ada halangannya yaitu harus menjaga nenekku yang tergeletak di rumah sakit.

****

Jum’at pagi, mentari mulai menerobos cakrawala, menyinari sudut-sudut masjid, menyapa dedaunan, tetesan embun pagi mulai mengering dan sebagian jatuh ke tanah. Mahasiswa mulai berkumpul satu persatu. Teman Atikah mulai berkumpul begitupulah teman-teman Arfan.

Wali nikah mulai datang, sedangkan Arfan sudah sepuluh menit berada di masjid demi menunggu waktu yang paling ia tunggu-tungguh. Yaitu waktu yang paling sakral dalam hidupnya yaitu pengucapan ijab qabul. Teman-teman LDK mulai berdatangan beserta para ustad-ustad Arfan dan ustadza Atikah.

Di balik tabir Arfan melihat calon istrinya dan tinggal beberapa menit lagi akan menjadi istrinya tersenyum manis. Senyumnya mekar bagaikan mekarnya bunga mawar dan bibirnya merah seperti buah delima. Pandangan sempat menerobos ke wanita itu, kemudian dia segera menundukan pandagannya.

“Saya nikahkan Arfan dengan Atikah dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai,”ucap wali nikah.

“Saya tetetete… rima nikahnya Atikah dengan mas kawin sebagai berikut di bayar tunai,”ucap Arfan terbatah-batah, hatinya seolah-olah tergunjang dan hampir dia tidak bisa mengucapkan ijab qabul.

“Sah, sah, sah, sah, sah,” sahut para undangan yang datang waktu itu.

Hari demi hari dan bulan demi bulan, dan akhirnya Arfan telah menyelesaikan skripsinya dan tinggal menunggu ujian, sedangkan Atikah telah masuk semester enam jurusan pendidikan Fisika. Kini kejolak ekonomi keluarga mereka mulai memburuk, mereka telah malu meminta bantuan sama orangtua. Arfan mulai membagi waktunya bekerja sekaligus menjadi pendakwah. Namun kebutuhan mereka tidak tercukupi.

Atikah mulai tidak sabar lagi menahan derita,”kak bagaimana nih kita, beras sudah mulai habis kak, katanya Allah akan membantu kita bila kita telah menyempurnakan agama kita,”Ucap Atikah penuh kekesalan.

“Dik sabarlah dulu insya Allah, Allah akan memberikan rezeki yang tanpa kita duga asalkan kita mau mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita,”nasehat Arfan kepada istrinya yang mulai kendor imannya.

Esok harinya istrinya mengeluh lagi, “Kak beras sudah habis dan sekarang tinggal ada sisa uang kita yang cukup lima bungkus indomie, bagaimana kak dan gajian kakak lagi satu minggu lagi.

“Insya Allah sabar ya dik, sementara kak juga berusaha nih, oh dik doakan kakak ya, mudahan gambar kakak dalam lomba arsitek pembuatan MOL kendari memperoleh juara pertama dan bila juara pertama insya Allah proyek itu kakak yang akan menggambarnya nanti.

“Doaku selalu menyertaimu kak, insya Allah saya sabar kak menghadapi cobaan ini ya kak, dan nasehati saya bila hatiku dalam keadaan gundah.

“Insya Allah dik kita saling menasehati, dan ingatkan kakak bila kakak juga melakukan kesalahan.

Esok harinya pengumuman lomba telah di umumkan pada akhirnya yang mendapat juara pertama yaitu Arfan.

“Inilah arsitek muda dengan gaya gambar perpaduan bangunan modern dan tradiosonal yang menghasilkan bangunan mixmoders yaitu arsitek Arfan dan mendapatkan hadiah sebanyak tiga puluh juta dan sekaligus yang akan mendesain gambar MOL Kendari dengan harga gambar berkisar hampir seratus juta lebih,” Ucap panitia dengan penuh semangat.

Tak berapa lama berderinglah telpon genggaman Arfan, ternyata ada sms dari istrinya,”Kak di kosan tinggal dua bungkus indomie dan yang satu untuk kakak dan yang satunya untuk adik dan untuk besok mungkin kita harus puasa kak, berhubung uang kita telah habis dan beras kita juga telah habis.

apakah dia mau menikah

Baca Juga: MELIBATKAN ALLAH DALAM BERBISNIS

Membaca sms itu Arfan sempat meneteskan airmata. Ia terharu betapa sabarnya istrinya walaupun hanya dua bungkus indomie tapi dia masih sabar membangun rumah tangga dengan dirinya. Setelah dia mendapat hadiah dari panitia ia segera ke MOL terdekat dan menuju rumah makan demi membeli beberapa bungkus makanan yang lezat dan membelikan jilbab buat istrinya dan sekaligus membeli beras yang lima puluh kiloan.

Baca Juga:  Hidup Seperti Secangkir Kopi

Baru ia kembali kerumah. Setibanya di rumah dia segera memeluk istrinya sambil meneteskan airmata. Istrinya bingun dan penuh tanda tanya.

“Hari ini kakak yang menjadi pemenangnya, dan kakak diberikan hadiah sebanyak tiga puluh juga rupiah dan sekaligus menjadi arsitek untuk menggambar bangunan MOL di kota Kendari dengan nilai taksiran ratusan juga dik.

Mendengar hal itu, istrinya segera bersujud syukur dan di ikuti oleh Arfan. Airmata terjatuh di lantai yaitu airmata kebahagian dan airmata rasa haru. Kemudian Arfan membaca surah Ar-Rahman serta di ikuti istrinya,” FABIAI ALA IROBBIKUM MATUKAZIBA(NIKMAT APA LAGI YANG KAMU DUSTAKAN!)

Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *