Musuh Yang Terbesar Pada Manusia

  • Whatsapp
Musuh Yang Terbesar Pada Manusia

Manusia merupakan makhluk yang diciptakan secara sempurna oleh Allah. Kelebihan-kelebihan manusia sudah dibahas ratusan tahun di firman-firman Allah. Betapa uniknya manusia, sehingga Allah melebihkan manusia dengan makhluk ciptaanNya yang lainnya. Salah satu contohnya Allah menunjuk langsung manusia untuk dijadikan sebagai khalifah fil ardhi. Padahal pada saat itu manusia barulah direncanakan untuk diciptakan.

Namun dibalik kesempurnaan manusia, sudah tentuh ada kelemahan yang terdapat pada manusia itu sendiri. Kelemahan itu, bukanlah mengindikasikan kelemahan Allah dalam menciptakan. Akan tetapi, Allah sudah menciptakan sesempurna mungkin. Namun kelemahan itu disebabkan oleh manusia yang tak pandai memanfaatkan potensi yang diberikan oleh Allah.

manusia sudah tentuh

Photo by. pixabay.com

Baca Juga: Golongan Mana Yang Masuk Surga?

Potensi-potensi itu bila dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Maka yakinlah, manusia akan mampu menciptakan terobosan-terobosan baru yang dapat bermanfaat untuk generasinya. Dibalik kelebihan manusia, sudah tentuh ada kekuranganya. Apa kekurangan manusia itu, tak lain adanya godaan dan kurangnya manajemen diri yang harus di evaluasi.

Justru itu, musuh yang terbesar di dalam diri manusia yaitu melawan diri sendiri. Kadang kita dibuat nyaman dengan diri kita sendiri. Sehingga sifat manja yang berlebihan akan mampu mengkerdilkan kita dalam bertindak. Manusia kadang mengalami zona nyaman. Sehingga mengurangi daya kreatifitas untuk menciptakan hal-hal yang baru.

Justru itu, sang nabi kita pernah menyampaikan hal itu, setelah mengalami beberapa peperangan yang besar. “Kita sudah melewati beberapa peperangan yang besar, namun masih ada peperangan yang paling besar yaitu perang melawan hawa nafsuh. Perang inilah perang yang paling besar. Kita tidak melihat musuh dan lawan kita. Namun musuh itulah justru menyatu di dalam tubuh manusia itu sendiri.

Baca Juga:  Godaan Terbesar Dalam Mencari Jodoh

Kita dibuat nyaman, dibuat santai, dibuat simpel. Sehingga tak ada penggalian ide yang cemerlang untuk bertindak. Maka hadirnya kita didunia dinilai tak mempunyai arti apa-apa. Kita tak mampu melukis sejarah perubahan. Tak ada tanda-tanda sejarah yang akan diceritakan oleh anak cucu kita. Ada dan tiadanya kita, sama saja. Inilah yang berbahaya, tak ada effek positif yang membangun untuk generasi kedepannya.

Padahal, manusia yang baik adalah manusia yang selalu disebut namanya dalam tintah sejarah kebaikan. Walaupun sudah tiada, dia tetap abadi dalam sebuah nama, dan terobosannya.

Kita bisa belajar dari para nabi, para cendekiawan muslim yang mumpumi. Mereka meninggal, namun karyanya tetap bertahan sepanjang masa. Bahkan namanya mengabadi dalam monument-monumen sejarah. Justru itu, sebelum engkau merubah orang lain, maka ubahlah diri sendiri dulu. Karena perubahan itu, di awali dengan perubahan sang perubah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *