Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Nikmat Allah mana yang Kamu Dustakan?

3 min read

NIKMAT ALLAH MANA YANG KAMU DUSTAKAN

Senja di wapulaka, burung-burung mulai kembali ke sangkarnya. Angin bertiup alun-alun menyapa dedaunan dan pohon-pohon yang telah capek seharian melaksanakan tugasnya yaitu mengeluarkan oksigen buat manusia. Seharian mereka bertugas menyebarkan oksigen kepada seluruh makhluk yang Allah ciptakan.

Bagi mereka hanyalah oksigen yang bisa mereka persembahkan kepada makhluk Allah yang lainnya. Sebenarnya mereka ingin memberikan yang lain kepada manusia. Namun hanyalah oksigen itulah yang akan menjadi zikirnya demi mempertanggungjawabkan dirinya di hadapan Tuhan.

Semakin menit mentari semakin meredupkan sinarnya. Pancaran kemerahannya menghipnotis seluruh makhluk, dengan melihatnya mereka akan menganggungkan sang pencipta dirinya. Burung bangau telah kembali kesarangnya demi membawa makanan ke anak-anaknya.

Demikian burung elang, dia cepat-cepat kembali kesarangnya demi menemui anak-anaknya yang di tinggal seharian. Namun beda halnya dengan burung kelelawar dan burung hantu. Baginya malam merupakan waktu untuk mencari makanan buat anak-anak mereka.

Maha suci Allah yang telah menciptakan makhluknya dan membagikan porsi waktu kerja makhlukNya. Sehingga burung hantu bekerja pada malam hari, sedangkan burung elang hanya siang hari. Demikian pula burung kelelawar bekerja pada malam hari, sedangkan burung bangao bekerja pada siang hari.

Senja itu akan menjadi saksi, ya saksi buat burung, buat mentari, buat angin dan buat manusia. Bahkan buat seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Dikala itu mentari telah redup, satu persatu anak-anak telah kembali dari tempat bermainnya.

barangsiapa yang mengucapkan assalamu alaikum
Gambar oleh Angela C dari Pixabay

Baca Juga: Cemburunya Allah

“Yuk mari kita pulang, karena udah dekat magrib,” ajak hafish anak yang berumur sepuluh tahun ke pada teman-temannya.

“Yuk-yuk kita pulang, Karena hari ini ada kajian agama setelah ba’da magrib, sama Ustad Rahmat,”panggil Ali

Tak berapa lama satu persatu, anak itu berpencar pulang menuju rumahnya masing-masing. Setelah mereka selesai mandi dan berwudhu, azan magrib berkumandang mengiasi cakrawala langit Wapulaka

Baca Juga:  Alam Pun Bersedekah

“Allahu akbar, Allahu akbar 2x

Ashadu anla illaha illaullah 2x

Ashadu ana muhammad dara sulullah 2x

Haiya lafalaah 2x

Haiya la sholah 2x

Allahu akbar, allahu akbar

Laa illaha ilaullah

Sang imam mulai berdiri di hadapan para jamaah. Para jamaah mulai merapatkan saf-safnya demi kesempurnaan sholat. Kemudian imam itu bertakbir dan dilanjutkan dengan surah Al Fatiha, setelah itu di ikuti surah At Tin. Hampir tujuh menit melaksanakan sholat, dia memberi salam dan di ikuti seluruh jamaah.

Kemudian mereka berdoa, berzikir, istiqfar, sambil meminta ridho sang pencipta. Usai berdoa, ustad Rahmat menyuruh anak-anak membuat majelis. Berkumpullah seluruh anak itu demi mendengarkan sepatah nasehat ustad Rahmat.

“Rasulullah saw bersabda, “barangsiapa yang mengucapkan assalamu alaikum maka Allah akan memberikan 10 kebaikan dan barangsiapa yang mengucapkan assalamu alaikum warahmatullah maka Allah akan memberikan 20 kebaikan dan barangsiapa yang mengucapkan Assalamu alaiku warahmatullahi wabarakatuh maka Allah akan memberi 30 kebaikan, maka pada malam ini aku ingin mengawali tausiaku dengan ucapakan Assalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh,”Salam Ustad Rahmat

Wallekum salam warahmatulahi wabarakatuh,”Jawab seluruh anak yang hadir pada majelis ilmu itu.

“Anak-anakku tak hentinya kita bersyukur kepada Allah dan tak hentinya kita bersalawat kepada nabi kita, yaitu nabi terakhir pembuka jalan kebenaran yaitu sang Rasulullah saw. Oh sungguh betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita. Sehingga di dalam ayatnya surah Ar Rahman, Allah menyebutnya beberapa kali ayat yang mengatakan,” nikmat apakah yang kamu dustakan?. Betapa banyak nikmat Allah yang DIA berikan kepada manusia. Namun manusia kadang lupa dengan nikmat itu datangnya dari Allah.

Padahal Allah itu maha baik dan maha bijaksana. Coba anak-anakku yang aku cintai kita renungkan, bila Allah tidak memberikan kita oksigen. Pasti belum cukup satu jam kita akan mati kehabisan oksigen. Betapa baiknya Allah, DIA tidak pernah menuntut manusia untuk membayar oksigen yang DIA berikan kepada hambaNya. Namun hanyalah di minta adalah kesyukuran manusia terhadap apa yang telah DIA berikan.

Baca Juga:  Diamnya Pemuda Hancurnya Negara

kebaikan dan barangsiapa yang mengucapkan

“Nikmat apakah yang kamu dustakan?. Firman ini menandakan manusia sebagai makhluk yang kadang lalai dan kadang taat. Ketika manusia mendapatkan kelapangan, dia tidak pandai bersyukur. Dan bila manusia mengalami kesempitan/permasalahan dia selalu mengeluh kepada Allah, bahkan menyalahkan Allah. Padahal Allah itu maha baik terhadap hambaNya.

Tahukah anak-anakku, betapa banyak nikmat Allah, sehingga dia gambarkan di dalam firmannya,” Seandainya lautan kujadikan tinta dan batang tumbuhan kujadikan pena dan daun-daunan kujadikan sebagai lembaran-lembaran, maka engkau tidak akan mampu menulis nikmat-nikmat yang AKU berikan.”

Maka mulai hari ini kita harus menjadi manusia yang pandai bersyukur. Karena barangsiapa yang tidak bersyukur kepadaKu, maka azabku amatlah pedih. Itulah firmannya. Dan barangsiapa yang mensyukuri nikmatku maka akan kutambahkan nikmat itu .

“Maaf Ustad saya mau bertanya, kira-kira bagaimana kita bersyukur dengan baik?,” Tanya salah satu anak yang ada di dalam majelis itu.

“Bersyukur dengan baik adalah kita dengan ikhlas melaksanakan apa yang di perintahkan Allah dan rasulnya. Contohnya, bila pada hari ini kita mendapatkan makanan, maka kita jangan lupa mengucapkan Alhamndulillah. Contoh analogi sederhana, bila kamu di berikan temanmu hp baru, pasti kamu akan mengucapkan terimakasih. Itu baru hp, sedangkan Allah melebihi pemberian manusia, kenapa kita lupa terhadap DIA.

Padahal DIA telah memberikan kita tangan, kaki, hidung, dan mata. Walaupun mata dan hidung yang DIA berikan kepadamu sipit dan peset, namun kita sebagai hamba perlu bersyukur. Coba anak-anak tidak punya hidung dan mata. Pasti kamu tidak bisa melihat dan bernafas kan!, dan boleh jadi kalian akan cepat game over,” jawab ustad Rahmat

Lanjut ustad rahmat

“Ia saya kira cukup tausiyahnya ya, lebih kurangnya mohon di maafkan, karena saya sadar, saya bukanlah manusia sempurna seperti rokok sampoerna, hehehehe. Akhir kata Assalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh,” Salam ustad Rahmat.

“Walekum salam warahmatulahi wabarakatuh,”jawab anak-anak itu sambil berpencar meninggal kan ruangan masjid, demi berwudhu untuk melanjutkan melaksanakan sholat Isya.

Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *