Pagi Di Rumput Laut

  • Whatsapp
menerobos anak ombak

Ia termenung disudut dermaga, melihat ikan menyiut-nyiut di atas air, mengepak-epakan ekornya, menari-nari mengikuti gesekan air laut. Buritan kapal mulai dipasangkan, layar mulai dikembangkan, indah rasanya menerobos ombak kecil yang menyapa. Kapal mulai membelah lautan, menerobos anak ombak berkerumunan.

Read More

Kini kapal itu menari-nari bagaikan papak selanjar dibawa ombak besar. Ikan cucuk sekali-kali melompat, bermain dengan anak ikan yang menggemaskan, lalu ia menangkapnya untuk santapan cacing periang di perutnya.

Nelayan berebut aduh, menerobos anak ombak membawa rezeki sang Illahi. Lalu kapal itu mulai merapat dibuih yang terombang-ambing. Keriuk-kriut tali terdengar di kupin. Tali yang di ikat dengan buih, lalu disatukan dengan batu. Oh dalam, amat dalam buih itu berlabuh demi menjadi penari dilautan. Mentari mulai tersenyum dibalik awan putih, ia memekar bagaikan kembang-kembang sakura. Menit demi menit, mentari mulai mengintip dicelah awan, melihat anak-anak kapal mulai beraduh pancing.

Gesekan demi gesekan dayung melaju, ikan-ikan itu mulai berpesta pora, melihat umpan mendekat. Treeek, satu tangkapan lagi menyeluak di atas air. Kreeeet, tali pancing mengencang, bingun oh bingun, sungguh tarikan yang memeras otot. Tak berapa lama, layar ikan mengembang, ia menari-nari terombang-ambing, ia memberontak tak ikhlas dirinya mati di ujung tali.

Kriuk-kriuk tali itu mengencang bergoyang-goyang kiri kekanan. Keringat mulai merembes, ikan itu melakukan perlawanan sengit. Salahsatu kapal mulai merapat membantu rekan yang mulai capeh. Ikan besar, mulai mendekat, mulutnya amat panjang, layarnya sekali-kali mengembang, lalu lari sekencang-kencangnya untuk melepas, namun tali itu tak hendak kalah. Oh pasrah, tak ada lagi tenaga yang mengalir, ia pasrah dengan sepasrah-pasrahnya.

Baca Juga:  Tuhan, Aku Ingin Sekolah - Cerpen

Seorang berpindah membantu kawannya mengangkat ikat yang sudah lemas. Besar amat badannya. Nelayan itu mulai bingun, hendak gimana hasil tangkapan akan dibawah.

“Tariik, lalu ikatkan ekornya di ujung perahu.

Tali mulai melingkar diekor ikan, lalu di kaitkan dengan ujung kapal. Perlahan-lahan kapal itu mulai melepas landas, mendayung sedikit demi sedikit. Pelan tapi pasti, membawa berkah sang Illahi. Riang rasanya dada, senang tangkapan yang menyejutkkan, rezeki yang tak diduga.

Anak-anak mulai bermain-main dibibir pantai, membuat bola-bola kecil pasir putih. Deretan bola berjejer melingkar bagaikan bumi kecil. Bola salju kata Sule, tidak ini bola pasir. Galian pasir mulai terlihat, satu persatu bola itu di luncurkan didalam lubang. Ya sebentar bila laut mulai surut, bola itu akan dikeluarkan.

Kini perang-perangan mulai teraba-aba. Amunisi bola pasir, mulai dikeluarkan dari tempat berteduhnya. Anak-anak memegang satu persatu. Keras amat keras. Bila amunisi udah siap, tinggallah strategi yang hendak disusun.

menerobos anak ombak
Gambar oleh Pexels dari Pixabay

 

Baca Juga: UUD KUHP Menyapa Ratu Empat, Pantai Lagunci

“Perang gerilya. Usul salah satu anak.

“Jangan, gunakan perang parit aja.

“Tidak, lihat medangnya dulu, kira-kira musuh arahnya dari mana.

“Braaaaaak, awas musuh sedang menyerang.

Terkocar-kacir berlari. Telah buyar strategi yang dibahas. Prajurit berpencar, kini mereka kalah cepat. Musuh telah menyerang, strategi belum terbahas. Tiba-tiba anak-anak merapat diperahu kecil, yang membawa ikan besar yang telah mati.

“Wah amat besar ikannya

Kreeak paaaaak. Bunyi lemparan menyapa. Dibelakang telah berkumpul sang musuh untuk menyerah.

“Sabaaar, ini ada ikan besar.

Lawan merapat, mereka terpancing dengan isu ikan. Anak-anak mulai mendamai. Kini pikiran berperang telah hilang, digantikan dengan rasa takjub terhadap ikan besar.

“Yuk, kita bantu angkat ikannya.

“Ok, nanti main perang-perangnya kita lanjutkan besok ya.

“Ok, mantap…..

Anak-anak mulai bersatu padu, mengangkat ikan besar. Ngos-ngosan teraliri di nafas. Kini musuh telah menjadi kawan, setelah kepentingan bersama lebih di utamakan. seolah-olah tak ada perang-perangan. Semuanya telah damai, dan sentosa.

“Satu, dua, tiga. Tarikan mengencang, otot mengeras, layar ikan mengembang. Perahu kecil, tak berdaya setelah mengangkut beban. Kini perahu itu mulai terasa ringan. Anak-anak mulai bersorai gembira, mereka sangatlah gembira melihat ikan layar yang begitu besar.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *