Pililah Calon Suami atau Istri Dengan Cepat, Tepat dan Penuh Pertimbangan

  • Whatsapp
Pililah Calon Suami atau Istri Dengan Cepat, Tepat dan Penuh Pertimbangan

Mungkin banyak orang yang akan mengatakan memilih calon itu sangatlah gampang. Tinggal kita mencari bagaimana sifat baik dan buruknya, lalu kita menyampaikan perasaan kita untuk di ajak berkomitmen hidup bersama di bahtera rumah tanggah. Bila itu tidak juga meyakinkan kita tentang akhlaknya. Tinggal kita berkomunikasi dengan pihak keluarganya untuk menjelaskan bagaimana sifatnya dan sepak terjangnya.

Itulah sebabnya taaruf itu di anjurkan dalam islam. Ta’aruf bertujuan untuk saling mengetahui dan saling memahami karakter. Jika udah menikah di permantap lagi taarufnya. Berhubung biasanya awal mengenal, masing-masing orang itu tidak langsung menampakkan sifat buruknya, dan kebanyakan sifat baiknya yang di tunjukkan. Jangan seperti membeli kucing di dalam karung. Dari luar karung, kita mendengar ngeongnya sangatlah bagus dan menarik hati. Namun setelah di buka, wah ternyata kucingnya kudisan, kucingnya matanya merah, kucingnya kurusan, tak di urus.

Ibaratnya pembeli dan penjual, haruslah berkomunikasi dengan baik tentang kualitas barang yang di sodorkan. Penjual haruslah jujur tentang barang yang ditawarkan, sehingga sang pembeli tidaklah menyesal kelat. Namun pembeli juga haruslah ikhlas, ketika ia sudah membelinya, sesungguhnya itu telah menjadi milik pembeli. Bila ia menemukan barangnya rusak sedikit, maka ia harus memperbaikinya.

Rumah tanggah itu ibaratnya sebuah bahtera besar yang ingin menyeberangi lautan yang luas. Di bahtera tersebut ada penumpang, ada nahkoda dan ada kru-kru yang lainnya. Jangkar sudah siap di tancapkan, layar sudah siap di bentangkan. Kru-kru telah berbagi tugas. Sang nahkoda telah mengarahkan bahteranya menuju lautan yang bebas, demi menaklukan ratusan ombak di lautan.

Sang nahkoda adalah pemimpin. Justru itu seluruh penumpang haruslah percaya kepada sang nahkoda. Percaya bahwa sang nahkoda tahu tentang ilmu kelautan. Percaya bahwa sang nahkoda mampu mengendalikan kapal. Percaya bahwa sang nahkoda mampu melayarkan kapalnya menyeberangi samudera yang bebas. Percaya bahwa sang nahkoda mampu membawa penumpangnya dengan selamat.

Baca Juga:  Antara Ikhtiar dan Ikhlas

pernikahan bergaya islami

Baca Juga: Godaan Terbesar Dalam Mencari Jodoh

Bila sudah saling percaya, yakinlah tujuan pasti tercapai. Semuanya akan tercapai sebagaimana tujuan bersama sebelum bahtera itu di layarkan dilautan yang bebas. Tahukah engkau nahkoda rumah tanggah itu? tak lain dan tak bukan yaitu suami. Suami merupakan nahkoda, pemimpin yang menentukan arah di mana bahteranya berlabuh. Sedangkan bendahara nahkoda yaitu istri, dan yang menjadi kru-krunya yaitu anak-anak yang lahir dari buah cinta mereka berdua.

Dalam memilih calon istri maupun calon suami. Tak lupa kita mencari kriteria sebagaimana sang rasul menyabdakan. Yaitu kecantikannya, kekayaannya, keturunanya dan agamanya. Maka utamakanlah agamanya, namun kadang kita sulit menemukan keseluruhan kriteria.

Akan tetapi bila criteria agamanya sudah mantap, maka tangkaplah dan rebutlah dia sebelum dia dirampas oleh orang lain atau sebelum dihitbah orang lain. Bila udah di hitbah baru menyesal. Justru itu bila anda menonton film Ketika Cinta Betasbih, ketika Azam di tanya oleh teman-temannya. Apakah Cut Mala cantik atau tidak? Sang Azam menjawab,” tergantunglah, bila udah dilamar tidak cantiklah. Namun kalau belum dilamar cantiklah.

Fokus, ya fokuslah di pembahasan. Afwan, ya pembaca. Di dalam islam kita di anjurkan untuk memilih pasangan itu beberapa kriteria, namun dalam kriteria tersebut, agamanya yang paling di utamakan. Bila sudah ada yang melamar, tentu si jandah dan sigadis berbedalah dalam menentukan pilihan.

Si jandah cukuplah dia yang menentukan apakah laki-laki yang datang sudah layak untuk dirinya atau tidak. Namun si gadis, harus ada persetujuan orangtuanya. Namun bila orangtuanya menyerahkan ke anaknya, itu juga tidak dipermasalahkan. Berhubung yang membina bahtera rumah tangga yaitu anaknya bersama suaminya.

Baca Juga:  Ada Rahasia Dibalik Tujuan Ibadah

Kenapa agamanya yang lebih diutamakan. Agamalah yang akan mendatangkan akhlak yang baik, dan pelayanan yang baik. Bila pelayananya sudah baik, tentu itu akan mendatangkan kecantikan. Berhubun kecantikan yang dapat bertahan selamanya ketika di nilai oleh hati bukanlah mata.

Bukankah mata itu kadang menipu. Seorang wanita berhak melihat calon pasanganya sebelum menikah. Bila udah saling mengetahui itu udah mantap, tinggal di mantapkan lagi. Bicara pilihan dalam kriteria terbaik inilah yang paling baik, bila anakmu mencari calon suami yang cocok dengan kriterial.

jodoh

Seseorang pernah bertanya kepada Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Laki-laki tersebut berkata: “Aku mempunyai anak gadis. Beberapa orang telah meminang putriku, lalu dengan siapakah aku nikahkan putriku itu? Mendengar pertanyaan ini Al-Hasan r.a menjawab:

“Nikahkanlah putrimu itu dengan orang yang (paling) bertakwa kepada Allah, jika ia mencintainya maka ia akan menghormati putrimu, dan jika ia marah kepada putrimu maka ia tidak akan menzaliminya. (Al Ghazali, dalam kitab Ihya Ulumu al-Din)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw, bersabda:

Jika ada seorang mengajukan pinangan kepada (putri) kalian, yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka kawinkanlah ia (dengan putrimu), jika tidak kalian lakukan maka akan terjadi fitnah dan akan berkembang kerusakan yang besar dimuka bumi. (HR. Tirmidzi )

Juga diriwayatkan dari Abi Hatim al-Muzaniy bahwa Rasulullah Saw. Bersabda:

Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan. “Mereka (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah saw, dan seandainya di dalam (diri)nya. “Rasul bersabda: “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia. “Beliau mengucapkan itu tiga kali.

Umul Mukminin A’isyah pernah berkata: “Pernikahan itu ibarat perbudakan. Karena itu seorang ayah harus melihat dengan seksama kepada siapa putrinya akan ia serahkan.

Rasulullah bersabda;

Siapa yang mengawinkan putrinya dengan orang fasik maka berarti ia telah memutuskan tali silaturrahmi dengan putrinya. (dikutip dalam buku: Ihya’ Ulumu al-Din, Imam al-Ghazali)

Ibn Hibban meriwayatkan hadis ini dalam ad-Dhu’affa dari riwayat Anas.

Baca Juga:  Nikmat Allah mana yang Kamu Dustakan?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *