Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Surga Yang Sempit Didalam Sangkar

2 min read

di dalam sangkar

Seekor burung yang ada di dalam sangkar, amatlah gembira ketika mendapatkan makanan dari tuannya. Tanpa bekerja dan bersusah payah untuk mencari nafkah, dia telah mendapatkannya di setiap harinya. Tak peduli dengan sangkarnya yang kecil. Baginya bila perutnya telah terpenuhi, maka sangkar yang kecil pun akan terasa luas.

Bahkan sangkar itu dianggapnya sebagai surga. Bukankah surga itu tanpa kita bekerja maka kebutuhan perut pun akan datang sendiri. Sebagaimana di dalam sangkar, cukuplah ia menyiut-nyiut dalam nyanyian merdunya, maka dia akan akan mendapatkan makanan dari tuannya.

Burung itu amatlah senang. Karena tanpa berkeringat dia telah mendapatkan makananya. Baginya surga itu amatlah dekat. Dan sangkar itulah surganya. Namun menurut pandangan burung yang terbang di luaran. Ia melihat seekor burung yang ada di dalam sangkar sesungguhnya dia terpenjara di dalam surga yang sempit.

Walaupun di dalam sangkarnya banyak makanan yang tersedia. Namun ruang gerak kehidupannya amatlah sempit. Namun burung yang bebas terbang di angkasa sungguh amatlah gembira melihat bermacam-macam alam yang indah. Ia bekerja disetiap harinya mencari nafkah. Namun itulah kebebasan dirinya.

Pemandangan-pemandangan yang indah disetiap harinya ditemuinya. Bila capeh terbang, dia beristirahat di ranting-ranting pohon. Kemudian terbang lagi mencari sesuap makanan. Nyanyian burung yang saling bersahutan bagaikan irama lagu alam yang tersusun rapi. Inilah kebebasan yang sebenarnya. Kebebasan yang sebenarnya yaitu tak ada lagi tekanan dari pihak manapun, karena kita telah berdiri di atas kaki sendiri.

yang ada di dalam sangkar
Gambar oleh Please, don’t sell my photos at commercial stock portals ! dari Pixabay

Baca Juga: Ada Cahaya di Atas Cahaya

Teman-temanku yang budiman, dua pelajaran yang harus kita petik. Kadang manusia mengalami hal yang demikian. Ya, ada yang bertindak sebagai burung di dalam sangkar, ada pula yang bertindak sebagai seekor burung yang terbang bebas. Namun kebanyakan yang di dapatkan adalah seperti burung yang ada di dalam sangkar.

Baca Juga:  Hidup Seperti Secangkir Kopi

Bila manusia bertindak seperti burung di dalam sangkar, secara otomatis manusia itu tidak akan bisa mengembangkan dirinya. Cenderung manja terhadap kehidupan. Tak ada lagi kekuatan yang lahir dari dirinya untuk menciptakan hal-hal yang baru. Tidak kreatif dan inovatif, sehingga tak menghasilkan karya-karya baru untuk digunakan oleh manusia yang lainnya.

Kadang kita hidup seperti itu. Entang-entang orangtua kita kaya raya, sehingga kita pengen di manjain setiap harinya. Bila ada masalah yang dihadapi, penyelesaiannya mengandalkan orang tuanya. Tak ada tindakan yang lahir dari dirinya untuk bertindak menyelesaikan solusi.

Sehingga lahirlah generasi yang peminta-minta. Manja terhadap suatu kehidupan. Generasi ini generasi yang menjadi beban suatu negara. Padahal kita butuh generasi emas. Ya, generasi yang dapat berdiri sendiri. Menciptakan terobosan-terobosan baru demi membuka lapangan kerja.

Kita bisa mengambil pelajaran dari seorang putri Tanjung yaitu anak klomerat pengusaha sukses yaitu Bapak Chairul Tanjung. Walaupun ayahnya seorang klomerat kaya Indonesia, namun dia tak ingin bermanja-manja dengan kekayaan ayahnya. Bahkan ayahnya menekankan dirinya untuk berdiri sendiri. Ayahnya yakin, bila sang putri di manjakan, maka akan menjadikan dia sebagai anak yang bukan petarung.

Justru banyak para motivator menyampaikan bahwa “anak seorang klomerat kaya raya, menjadi sukses, itu wajar-wajar saja. Namun bila anak seorang tukang becak, namun dia sukses membangun usahanya dengan baik, maka itulah yang luar biasa. Karena di balik keterbatasan keluarganya, dia mampu menciptakan terobosan yang mampu di perhitungkan.

Generasi Indonesia haruslah menjadi petarung sejati. Jangan seperti burung yang berada di dalam sangkar, tanpa bekerja dia bisa hidup, karena setiap harinya mendapatkan makanan dari tuannya. Namun jadilah burung yang bebas terbang di luaran sana.

Baca Juga:  Bila Mencari Jodoh Tak Kunjung Datang, Intropeksi Dirilah

Berjuang keras dan cerdas demi mempertahankan hidupnya, agar tidak terlindas alam yang kejam. Dengan itu, maka dia mampu menikmati indahnya alam di sekitarnya, tanpa bayangan-bayangan sang pengintau yang ingin menekannya. Inilah kebebasan ideal.

Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *