Syahadat Ulang

  • Whatsapp
Syahadat Ulang

Syahadat menurut para ulama banyak sekali maknanya. Ada yang mengatakan syahadat sebagai penyaksian. Syahadat merupakan sumpah setia manusia kepada Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai nabi. Kita bersaksi atas nama Allah sebagai tempat untuk bersandar serta tempat memohon pertolongan. Dan kita bersaksi pula bahwa Muhammad SAW adalah benar-benar utusan Allah.

Yang menjadi sebuah pertanyaan kenapa kita harus bersaksi, bukankah kita telah bersaksi kepada Allah sebelum Allah mengeluarkan kita di muka bumi. Sebagaimana termuat dalam firmanNya yaitu

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (secara berfirman):“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Merekah menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). (QS. Al Araaf : 172)

Eh ternyata sebelum Allah mengeluarkan kita dari rahim seorang ibu, terlebih lagi Allah menghapus memori kita. Allah menghapus memori tentang penyaksian kita kepadaNya pada saat di alam ruh. Ibaratnya flesdist, tak ada lagi file yang tersimpan di dalamnya. Kosong bangat, sehingga kita tak mengetahui sesuatu yang pernah terjadi di alam ruh itu. Yaitu sebelum ruh disatukan dengan tubuh.

Pada saat di alam ruh, kita hanya bersaksi bahwa adanya Tuhan. Allah memperkenalkan dirinya sebagai Tuhan, lalu seraya kita berkata,”Engkaulah Tuhan kami. Inilah tauhid pertama yaitu tauhid di alam ruh, sebelum nanti kita akan ditauhidkan kembali di alam dunia. Di alam dunia, setelah tubuh sudah bertemu dengan jasad. Allah menyuruh kita untuk bersyahadat kembali. Inilah yang dikenal dengan dua kalimat syahadat. Yaitu bersyahadat kepada Allah dan bersyahadat kepada rasul.

Baca Juga:  Tips dan Hal Penting Tentang Corona yang Wajib Kita Ketahui
yang berhak disembah kecuali allah
Algeria, Boufarik: Algerian Muslim reading the Koran in a mosque in Boufarik, (Photo by: Andia/Universal Images Group via Getty Images)

Baca Juga: Nabipun Ditegur Karena Khilaf – Stop Membanggakan Diri

Eh sebelum lebih jauh mengenai syahadat, marilah kita definisikan syahadat menurut bahasa dan menurut syari’at. Berhubung dalam sabda sang rasul menjelaskan syahadat itu merupakan bangunan masuknya manusia sebagai muslim.

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilaah yang berhak disembah kecuali Allah semata dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan shaum di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Syahadat menurut bahasa adalah pemberitahuan tentang apa yang diketahui dan diyakini kebenarannya dengan pasti. Sedangkan syahadat menurut syari’at yaitu pengakuan, pembenaran dan keyakinan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Azza wa jalla, tiada sekutu bagiNya.

Sehingga secara lengkap dua kalimat syahadat bunyinya sebagai berikut:

Asyahadu anlaa ilaaha illallahu wa syahadu anna Muhammad darasulullah. Aku bersaksi tiada tuhan yang patu disembah melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang kece, namun penuh penjelasan yang menguras konsentrasi. Kita kan bersaksi bahwa adanya Allah sebagai sesembahan, dan kita bersaksi bahwa Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Bukankah bersaksi itu seolah-olah kita melihatnya, bagaimana bisa kita bersaksi lalu kita tidak melihatnya.

Nabi mungkin bisa dilihat, bagaimana dengan Allah. Jawab saja santai ya. Mata itu terbagi dua yaitu mata lahirian yaitu mata dan mata batiniah yaitu hati. Kita tak mampu bersaksi kepada Allah melalui mata lahiriah, namun kita di tuntun bersaksi melalui mata batiniah. Allah tidak melihat mata lahiriahmu, namun mata batiniah yang dilihatNya yaitu hatimu.

muhammad saw sebagai utusan allah
Gambar oleh Gordon Johnson dari Pixabay

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Syahrin radhiyallahu ‘anhu, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.(HR.Muslim)

Maaf udah panjang penjelasannya, kita harus fokus ya. Jadi makna Laa ilaaha illallah yaitu keyakinan dan pengakuan bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, lalu berkomitmen denganNya dan mengamalkan tuntunaNya. Maka beribadahlah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya dengan yang lain.

“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu.”(QS. Muhammad : 19)

Bila engkau menyekutukan yang lainnya, sesungguhnya ini merupakan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah. Allah akan mengampuni semua dosa melainkan dosa syirik yaitu dosa yang menyekutukan Allah dengan benda-benda yang lainnya. Sedangkan orang yang melakukan dosa syirit disebut dengan musyrik.

Baca Juga:  Pililah Calon Suami atau Istri Dengan Cepat, Tepat dan Penuh Pertimbangan

Lalu muncul lagi sebuah pertanyaan, kenapa kita bersyahadat kepada nabi Muhammad SAW saja, kenapa bukan nabi yang lainya. Karena nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang di utus dimuka bumi untuk menyampaikan wahyu Allah yang dibawa melalui perantara malaikat Jibril dan sekaligus penyempurna ajaran-ajaran para nabi terdahulu.

Justru itu, bila kita tidak bersaksi kepada Muhammad SAW sebagai utusan Allah, lalu kita bersaksi kepada siapa. Memang setiap nabi selalu membawa visi ketauhidan, namun visi itu disempurnakan oleh Rasulullah SAW.

Bila kita bersaksi kepada Muhammad SAW, sesungguhnya kita percaya bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Sebelum kita mengimani Al Qur’an sebagai sumber kebenaran. Kita seharusnya mengimani dulu yang membawa wahyu itu.

Bila kita sudah mempercayai Muhammad SAW sebagai utusan Allah, maka seluruh yang di ucapkan dan dilakukan oleh Rasulullah SAW haruslah di ikuti. Alhamndulillah sebelum di angkat sebagai nabi, sang rasul telah diberi gelar Al Amin yaitu dapat dipercaya. Gelar yang diberikan oleh kafir Quraisy, berhubung beliau merupakan manusia yang tidak pernah berbohong.

Inilah salahsatu modal awal sang rasul, sehingga beliau di angkat sebagai nabi. Walaupun banyak sekali kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Rasullah yang telah nampak di waktu kecil, bahwa beliaulah sebagai sang nabi penyempurna para nabi-nabi. Yaitu adanya tanda kenabian, hatinya dibersihkan dengan air zam-zam di waktu kecil. Dan masih banyak lagi kelebihan lain.

Sehingga dalam iman haruslah mengimanin kepada Allah, mengimani kepada malaikat dan mengimani kepada Rasulullah. Itulah kunci kita, sehingga mengimana kitab-kitabNya. Karna kita telah mengimani Allah sebagai sumber wahyu, sedangkan malaikat sebagai perantara wahyu kepada sang rasul. Wahyu inilah telah dibukukan pada masa khalifah Usman bin Affan ra, sehingga disebut kitab Usmani.

Baca Juga:  Filosofis Pisang

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *