Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Tuhan, Aku Ingin Sekolah – Cerpen

10 min read

aku ingin sekolah

Alifah termenung di teras rumahnya, ia memikirkan sesuatu yang membuat hatinya gundah becampur haru. Kini tinggalah selangkah lagi dia akan melanjutkan sekolahnya di tingkat yang lebih tinggi. Kini SD tinggalah kenangan dan sejarah buat kehidupannya, walaupun dia melalui masa SD dengan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya bersama neneknya yang sudah tua rentah.

Pengumuman tinggal beberapa hari lagi, di hari itulah dia akan mendengarkan apa hasilnya selama enam tahun dia berjuang menempuh pendidikan di SD dengan susah payah dan penuh keringat bercucuran.

Kini waktu itu telah tiba, enam tahun lamanya dia harus menunggu demi melanjutkan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Angin pagi mulai menyapa dirinya dengan membawa semilir angin segar yang dapat menyegarkan tubuh bagi orang yang menghirupnya.

Namun kali ini udara pagi seolah-olah menyayat hatinya dan pikirannya. Berhubung sebentar lagi dia akan lulus dan selanjutnya masuk SMP, sedangkan mendaftar SMP harus membutuhkan biaya yang sangat mahal menurutnya.

Dari uang masuknya, uang baju seragam, baju pramuka, baju batik dan olahraga membutuhkan dana yang begitu menguras kantung. Berhari-hari bahkan berminggu-minggu dia memulung barang-barang bekas, namun hasil uang yang dia kumpulkan baru mencapai pendaftaran, sedangkan yang lainnya belum tercukupi.

Senin pagi, angin segar membawa semilir kebahagian, ya kebahagiaan anak-anak SD dua Lamangga. Pengumuman akan segera dibacakan oleh kepala sekolah SD tersebut.

“Anak-anakku yang aku cintai dan aku banggakan pada hari ini merupakan hari penentuan kalian, apakah kalian harus bertahan disini atau justru meninggalkan SD tercinta ini demi melanjutkan pendidikan kalian di tingkat yang lebih tinggi. Namun sebelum aku umumkan, aku berharap anak-anakku menerima kenyataan ini dengan penuh ikhlas dan penuh kesabaran,”Ucap kepala Sekolah

Anak-anak diam mendengarkan apa yang hendak disampaikan kepala sekolah. Hatinya bertanya-tanya, apakah mereka lulus seratus persen atau justru ada sebagian temannya harus menerima kenyataan, bahwa mereka tidak lulus ujian.

“Alifah, Robiah, Nur Insan kedepan,”panggil kepala sekolah

Berdebar, gugup bercampur rasa takut. Hati mereka mengandung tanda tanya, apakah merekalah yang dimaksudkan kepala sekolahnya yaitu siswa yang harus bersabar dan ikhlas menerima kenyataan itu. Yaitu menerima kenyataan bahwa mereka merupakan orang yang belum pantas melanjutkan pendidikan tingkat yang lebih tinggi.

Lanjut kepala sekolah

“Anak-anaku kali ini, tiga diantara teman-teman kalian yang aku panggil di depan ini mereka merupakan anak-anak terbaik. Merekalah yang menjadi siswa teladan untuk tingkat SD dan merekalah yang mengharumkan sekolah kita. Alifah mendapatkan nilai tertinggi untuk siswa SD Sesulawesi Tenggara, lalu di susul oleh Robiah dan Nur Insan. Dan Alhamndulillah jumlah siswa yang lulus pada tahun ini mencapai lulus seratus persen.

pendidikan
by. pixabay.com

Baca Juga: ANTARA AKADEMIK, ORGANISASI DAN CINTA

Legah, senang, bahagia bercampur haru, kini teman-teman mereka yang telah enam tahun bersama harus berpisah. Susah senang bersama kini telah berakhir, di ibaratkan film yang di putar sang sutradara harus berakhir. Namun apa yang dirasakan Alifah berbeda dengan apa yang dirasakan oleh teman-temannya.

Teman-teman Alifah senang gembira riang ketika mendengar pengumuman mereka, berhubung setelah pengumuman mereka akan segera masuk di sekolah SMP yang mereka sukai.

“Alifah, alifah kamu mau masuk di SMP mana?,” Tanya Robiah

“Rencananya sih aku ingin masuk di SMP Negeri 2 Baubau

“Oh ia, Alifah aku juga mau mendaftar disana, nanti kita mendaftar bareng ya

“Aku juga Alifah nanti kita mendaftar bareng sama Robiah dan kamu,”Sahut Nur Insan

*****

Senin pagi, mentari mulai perlahan-lahan menampakkan dirinya. Semakin menit semakin sinarnya menyengengat di badan, menembus tulang belulang demi menghangatkannya dari udara subuh yang meniupkan udara dingin. Alifah segera mandi, kemudian dia sarapan bersama neneknya.

Setelah itu dia memakai baju SD yang sebentar lagi dia akan ganti dengan baju putih biru. Namun kali ini dia bingun, apakah dia mampu membeli baju putih birunya atau tidak, berhubung uang yang selama ini dia kumpul untuk keperluan masuk di SMP belum cukup untuk membeli baju dan hanya cukup untuk mendaftar.

Tapi tekatnya masih menggebuh-gebuh, ia harus mendaftarkan dirinya di SMP Negeri 2 Baubau, merupakan salahsatu SMP favorit di kota Baubau. Usai sarapan Alifah segera menuju ke sekolah, ia membawa tas ranselnya yang paling dia sayangi, namun tas itu sudah mulai agar rusak. Tas itu merupakan tas pembelian ibunya yang terakhir kalinya, sebelum ibunya meninggal dunia.

Dan ayahnya sekarang telah menikah lagi dengan wanita yang lain. Dan kini tinggalah Alifah dengan neneknya. Robiah dan Nur Insan telah menunggu Alifah di sekolah. Tak selang berapa lama menunggu akhirnya orang yang mereka tunggu munculah tepat di depan gerbang sekolah.

Robiah dan Nur Insan segera menghampiri Alifah dan mengajaknya untuk menuju tempat pendaftaran.

“Lifa dari tadi kami tunggu di sini,”ucap Nur Insan

“Maaf ya sobat, maaf ya sobat telah membuat kalian menunggu lama di sini

“Nda, belum juga lama kok kami berada di sini, ya hampir dua puluh menit, mungkin disini menunggumu. Oh ia teman-teman yang lain sudah mendaftar lho, bagaimana dengan kesiapan berkasmu Lifah,”Tanya Robiah

“Insya Allah sudah aman semua, tinggal kita mendaftar, oh ia ngomong-ngomong berapa untuk uang pendaftaran?

“Tadi kita ambil formulir pendaftaran, kita membayar cuma seratus limah puluh rupiah,”Jawab Robiah

Alifah agak kaget, namun dia tidak menampakkan kekagetannya. Terbesik dalam hatinya,”Wah mahal banget aku kira Cuma seratus ribu, namun seratus lima puluh ribu. Bagiku itu sangat mahal, namun beda halnya dengan Robiah dengan entengnya mereka mengatakan cuma seratus lima puluh ribu rupiah. Kata cuma merupakan kata yang menganggap remeh. Ya ginilah nasib orang kaya, namun dia merasa banggah walaupun uangnya hanya seratus tujuh puluh ribu, namun itu merupakan hasil keringatnya berbulan-bulan dia kumpul demi pendaftaran sekolanya.

Kini tinggalah dua puluh ribu rupiah, bila dia telah menggunakan uangnya demi mendaftar masuk sekolah. Dia mulai bingun, kira-kira berapa baju seragam ya untuk satu pasang. Ia mulai memutar pikirannya menerobos tong-tong sampah yang berserakah demi mengumpulkan rupiah demi rupiah. Usai mendaftar Robiah dan Nur Insan segera kembali kerumah. Sedangkan

Baca Juga:  Putih Merah

Alifah segera mengganti bajunya untuk memulung. Satu persatu dos telah dia kumpulkan, gelas aqua mulai memenuhi keranjangnya. Bila ada teman-temannya yang lewat, ia segera menutup mukanya dengan baju dan topi seperti ninja yang sedang mencari sesuatu. Malu baginya merupakan penghambat untuk mencapai cita-citanya.

robiah dan nur
by. pixabay.com

****

Senin pagi, seluruh siswa telah berkumpul, baik siswa kelas tujuh, kelas delapan, kelas Sembilan. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti upacara bendera yang pertama kalinya. Kelas tujuh dari tujuh satu sampai tujuh tujuh telah berbaris tepat di hadapan ruang guru. Sedangkan kelas sembila satu, sampai sembilan tujuh berada tepat di depan kelas Sembilan empat. Kelas sembilan lima dan kelas Sembilan enam, tepat di depan ruang Laboratorium Komputer.

Robiah dan Nur Insan semakin bahagia ketika mengikuti upara bendera. Mereka mengikuti upacara dengan penuh hikmah. Kini lambaian sang saka telah berkibar, lagu Indonesia telah dilantunkan dengan penuh hikmah. Kini mereka telah merdeka, imajinasi mereka telah menerobos di masa lampau, mereka mengingat ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Bertanda bahwa Indonesia telah merdeka dan terbebas dari penjajahan yang berkepanjangan, dari bangsa belanda sampai bangsa jepang.

Namun beda halnya dengan Alifah, ia hanya mengintip di pintu gerbang sekolah. Dia ingin sekali bergabung dengan Robiah dan Nur Insan serta teman-teman yang lainnya. Namun apalah dayah, rupiah demi rupiah yang telah dia kumpulkan berhari-hari belum mencukupi perlengkapan sekolah yang harus dia beli. Kini dia hanya melihat dari kejauhan. Kemudian dia bangkit lagi demi mencari sisa-sisa sampah aqua yang teman-temanya buang. Ia sengaja menutup mukanya dengan baju, agar Robiah dan Nur Insan tidak mengenal dirinya.

“Robiah, robiah dimana Alifah, kok kenapa dia tidak hadir hari ini?,”tanya Nur Insan

“Saya juga tidak tahu kenapa dia tidak datang pada hari ini, padahal hari ini merupakan hari pertama kita masuk sekolah, dan hari pertama kita bertemu dengan guru baru kita.

Mendengar hal itu Alifah hanya diam di dekat pintu gerbang, ia ingin sekali menjawab pertanyaan Nur Insan, namun dia tidak ingin identitas dirinya selama ini di ketahui oleh kedua temannya. Sedih bercampur malu dia harus lalui, ia ibaratnya bunga mawar yang hampir mekar, namun kembali di terpah badai. Matanya mengintai setiap bekas aqua namun hatinya pedih.

Tak berapa lama kelas tujuh satu masuk. Guru telah membawa buku dan satu absen, Robiah dan Nur Insan segera masuk keruangan. Kelas tujuh satu, kelas favorit yaitu kelasnya murid-murid hebat, murid-murid cerdas dan mempunyai kecerdasan diatas rata-rata.

Di ruangan, guru mulai memperkenalkan dirinya, demikian pula siswa, satu persatu dari mereka mulai berdiri disamping mejah masing-masing. Namun masih ada satu mejah yang kosong belum terisi yaitu mejah seorang gadis pemulung yang menghabiskan waktunya demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk baju sekolahnya.

“Anak-anak dimana Alifah, bukankah mejah yang kosong itu mejahnya Alifah?,”tanya Ibu guru

Diam dan merasa gugup akhirnya Robiah angkat bicara.

“Kurang tau bu, padahal kemarin kita mendaftar sama-sama di sini, saya juga heran bu, kenapa Alifah tidak datang hari ini.

“Oh ia nanti kalian berkunjung dirumahnya ya, jangan sampai dia sakit.

“Ia bu nanti kami berkunjung kesana setelah pulang sekolah,”jawab Nur Insan.

Usai sholat Ashar, Robiah telah berjanji dengan Nur Insan untuk berkunjung kerumah Alifah. Rumah Alifah berada di depan kantor pos, namun rumahnya agak masuk ke dalam lagi. Dan bisa juga kita lewat lorong Burasatongkah. Alifah tidak menyangkah bahwa Robiah dan Nur Insan akan datang di rumahnya. Ia tidak sempat bersembunyi di belakang rumah.

“Alifah tunggu Alifah, kenapa kamu tadi tidak datang kesekolah?,”tanya Robiah

Alifah menghentikan langkahnya, ia pasrah dengan keadaan, berhubung ia tidak mungkin lagi lari dari kenyataan. Apalagih Nur Insan dan Robiah telah melihat dirinya. Sebenarnya bila ia tahu bahwa mereka datang kerumahnya, ia ingin sekali bersembunyi agar temannya tidak menemukan dirinya, sehingga dia bebas dari introgasi.

“Alifah kenapa kamu tidak datang hari ini, bukankah hari ini merupakan hari pertama kita masuk sekolah,”ujar Nur Insan

Diam bertanda ia tidak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-teman. Namun bila dia tidak jujur kepada temannya nasibnya akan sama.

“Maaf teman, tadi saya tidak datang di sekolah, Karena ada kesibukanku

“Emangnya apa kesibukanmu? Tanya Nur Insan.

Diam hampir tidak bisa berkata apa-apa. Namun kali ini dia harus jujur kepada kedua temannya. Walaupun di hati kecilnya yang paling dalam, dia tidak ingin membiarkan teman-temannya menanggung beban dirinya.

“Maafkan aku teman selama ini aku tidak jujur sama kalian, sesungguhnya selama ini aku bekerja sebagai pemulung, semenjak ibuku meninggal dan ayahku meninggalkan kami dan menikah lagi dengan wanita lain, dan sampai sekarang tidak pernah lagi mengirimkan uang kepada kami. Bertahun-tahun aku menabung demi uang masuk di SMP, namun uang itu hanya cukup untuk pendaftaran saja.

Dan sekarang aku sementara berjuang untuk mencari penghasilan tambahan demi membeli seragam. Namun kali ini uangku belum cukup, sebenarnya ketika Ibu guru mengabsen namaku, sesungguhnya aku mendengar hal itu dibalik pagar sekolah, ketika aku memungut sisa sampah yang dibuang oleh teman-teman. Aku ingin menjawab panggilan itu, namun aku sadar aku berada di luar sekolah dengan menggunakan ninja, agar teman-temanku tidak mengenal diriku.”

Mendengar hal itu Robiah dan Nur Insan terharu.

“Temanku kenapa kamu tidak menyampaikan hal ini kepada kami sebelumnya, agar kami membantumu,”ujar Nur Insan.

“Maafkan aku teman, aku tidak ingin masalahku dapat membebani kalian, cukuplah diriku yang menerima ini dan cukuplah diriku yang menghadapi cobaan ini. Dan mungkin besok aku juga tidak akan datang sampai uangku cukup membeli seragam. Tapi aku tidak tahu kapan uangku akan cukup membeli kelengkapan sekolah.

“Sabar ya sobat, sabar ya sobat, insya Allah pasti ada jalan,”ucap Robiah sambil memelus pungguk Alifah. Dan kemudian mereka segera pamitan. Mereka berencana setelah pulang dari rumah Alifah langsung ke tokoh baju La Elangi untuk patungan membelikan seragam buat Alifah.

Setibanya di La Elangi Robiah dan Nur Insan mencari pakaian yang terbaik buat Alifah beserta kelengkapan lainnya dan segera kembali kerumah Alifah untuk membawakan baju tersebut.

Baca Juga:  Ku Kejar Mimpi Jadi Bintang - Cerpen

Ketika mendapatkan seragam baru, Alifah segera sujud syukur, ia menangis terseduh-seduh.

“Terimakasih sobat, terimakasih sobat, jasa kalian tidak akan pernah aku lupakan sampai jiwaku akan di panggil oleh Allah SWT.

****

Dua tahun kemudian, Alifa berjuang mengumpulkan sampah demi sampah untuk kelanjutan sekolahnya, sekaligus tambahan penghasilan buat keluarganya. Setiap lembaran Koran yang dia dapat dia sempatkan untuk membaca koran itu dengan habis. Bahkan dia rajin meminjam buku-buku temannya dan iapun rajin di perpustakaan untuk mengkaji ilmu pengetahuan.

Kini tibalah suatu moment yang paling berharga yaitu lomba cerdas cermat tingkat kota. Bila di tingkat kota berhasil menjadi pemenang, maka akan lanjut ketingkat propinsi dan selajutnya tingkat nasional. Bila nasional telah menjadi pemenang, maka dia akan diutus untuk bertanding di tingkat internasional, mewakili Indonesia untuk bertarung dengan pelajar-pelajar di berbagai Negara di dunia, yang tepatnya di negeri Eifel yaitu Paris.

Alifah memanfaatkan moment itu dengan sungguh-sungguh. Ia jadikan sebagai batu loncatan perjuangan. Walaupun tiap hari dia memulung, namun dia memulung sambil membawa buku. Bila udah capeh ia istrahat sambil mempelajari beberapa mata pelajaran yang dilombakan.

Pertempuran sedang berlangsung, kini Alifah yang menjadi pemenangnya. Kemudian dia berjuang lagi di tingkat propinsi, dia tetap menjadi pemenangnya. Pada akhirnya di tingkat nasional. Teman-teman Alifah di kejauhan memberikan semangat kepada Alifah.

Guru-guru SMP Negeri 2 Baubau beserta murid-muridnya berdoa penuh khusuh agar Alifah mampu menumbangkan lawan-lawannya. Kini tinggalah selangkah juara akan dia rebut setelah mampu mengalahkan ribuan SMP di seluruh Indonesia. Kini pertarungan antara SMP Negeri 2 Baubau melawan SMP Negeri 1 Jakarta Pusat. Lomba di bidang sains yaitu mata pelajaran Fisika.

“Soal babat rebutan sekaligus penentu siapa jawara lomba kali ini dan sekaligus mewakili Indonesia ditingkat internasional, soalnya adalah apa penyebab terjadinya pelangi?”Ucap sang pembaca soal.

Tanpa ragu Alifah langsung menekan tombol alarm dan segera menjawab soal tersebut dengan cepat dan tepat.

“Pelangi terjadi ketika busur spectrum warna besar berbentuk lingkaran yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. Ketika cahaya melewati butiran air, ia membias seperti ketika menembus prisma kaca dan keluar menjadi spktrum warna pelangi,”jawab Alifah dengan penuh keyakinan.

“tepat jawabannya,”ujar sang juri.

Setelah usai perlombaan moderator segera membacakan hasil lomba cerdas cermat tingkat nasional.

“Yang menjadi pemenang pada lombah tahun ini dari SMP Negeri 2 Baubau, kepada Alifah untuk segera mengambil piagam sekaligus menyampaikan sepata kata motivasi.

Alifah berdiri dan segera menuju podium yang telah disediakan. Ia berdiri di hadapan ribuan penonton serta di hadiri oleh menteri pendidikan Republik Indonesia yaitu Anis Baswedan.

“Yang terhormat bapak menteri pendidikan republik Indonesia serta para dewan guru dan penonton yang aku cintai. Keberhasilan ini aku persembahkan kepada nenekku yang aku cintai serta guru-guruku yang aku banggakan. Tanpa mereka aku tidak bisa berdiri di hadapan kalian. Bertahun-tahun aku menabung demi melanjutkan pendidikan di tingkat SMP. Sampah demi sampah aku kumpulkan dan lembaran demi lembaran yang di buang oleh masyarakat aku baca. Aku bukanlah seorang anak yang kaya dan bukanlah seorang anak penjabat, namun aku adalah seorang pemulung yang bertahun-bertahun menabung demi melanjutkan sekolahku. Namun ketika uang itu terkumpul dan aku mendaftar di sekolah yang aku tujuh, tapi ketika aku ingin membeli seragam sekolah , uangku tidak cukup lagi, namun alhamndulillah aku berterimakasih kepada kedua sahabatku yang telah membelikan aku seragam.

melanjutkan sekolahnya

Baca Juga: BILA JODOH TAK KUNJUNG DATANG, INTROPEKSI DIRILAH

Mungkin bagi anak-anak yang lain sampah adalah kotoran, namun bagiku sampah adalah kehidupanku. Aku ingin menjadi seorang dokter walaupun itu aku perjuangkan dengan kotoran sampah. Bukankah orang miskin tidak di larang untuk bermimpi, walaupun mimpi itu hanya mimpi dan entah kapan akan terwujud, dan entah kapan mimpi itu akan terlaksana dengan baik, dan hanya kepada Allah aku mengharapkan mimpiku ini”Ujar Alifah dengan tetesan airmata kebahagian.

Demikian pula menteri pendidikan terharu mendengar pidato Alifah. Beliau tidak menyangka, bahwa ada seorang siswa yang cerdas, yang menghabiskan waktunya untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah, demi melanjutkan pendidikannya.

Baca Juga:  Kendari Love Story - Cerpen

Usai mendengarkan pidato Alifah sang menteri segera mengambil tisu di atas mejanya. Beliau segera mengusap airmatanya dengan tisu. Haruh bercampur bangga. Dalam hatinya,” Inilah merupakan siswa harapan bangsa Indonesia. Bila seluruh siswa seperti ini, maka Indonesia akan bangkit dari keterpurukan.

“Acara selanjutnya sambutan menteri pendidikan sekaligus memberikan hadiah kepada sang juara dan sekaligus menutup kegiatan olimpiade tingkat nasional.

Berdiri, melangkahkan kakinya, sebelumnya berada di atas podium, beliau membungkutkan punggungnya, bertanda beliau sangat menghormati seluruh audiens yang hadir di gedung tersebut.

Meriah, membahana, tepukan tangan menghiasi ruangan itu. Seluruh audies yang hadir memberikan support kepada menteri pendidikan.

Yang terhormat para gubernur yang sempat hadir dalam acara ini. Serta para hadirin yang saya banggakan dan anak-anakku peserta olimpiade yang aku cintai. Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang alhamndulillah pada kempatan ini, Allah masih memberikan kita kesehatan dan ketabahan iman, sehingga kita bisa berkumpul di tempat ini.

Dan tak lupa pula kita kirimkan salam kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad Saw. Atas perjuangan dan kegigihan beliau dalam menyebarkan misi yang baik. Sehingga kita masih teguh dalam menjalankan ajaran islam. Yaitu agama rahmatan lil alamin.

Hadirin yang berbahagia

Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa bangga kepada anakku tercinta yaitu Alifah. Seorang anak yang berani menantang kehidupan demi memperjuangkan cita-citanya. Anak yang rela menghabiskan waktunya untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah demi mengejar cita-citanya. Saya tidak menyangka bahwa masih ada anak yang cerdas, namun tidak mempunyai biaya untuk berjuang menjadi orang yang hebat, cerdas dan pribadi bijaksana. Mendengar pidatonya, hatiku luluh seolah-olah itu tamparan buat diriku sebagai menteri pendidikan. Sampah demi sampah dia kumpulkan demi meraup rupiah. Dia tidak peduli, apakah itu dapat membahayakan kesehatan dirinya, demi mencapai cita-cita yang tinggi. Sehingga dia bisa bangkit, ya bangkit. Hari ini merupakan hari yang paling bersejarah dalam hidupku, selama ini saya belum menemukan seorang anak yang seperti Alifah. Mungkin ratusan juta penduduk Indonesia, hanyalah sepuluh anak yang seperti Alifah. Berjuang, semangat demi menaklukan gejolak dunia yang mulai tidak bersahabat.

Hadirin yang berbahagia

Pada kesempatan ini, saya menteri pendidikan bermaksud untuk mengangkat anak ini sebagai anak angkatku dan sekaligus memberikan beasiswa sepenuhnya, sampai Alifah selesai menyelesaikan doktornya. Allah sebagai saksinya, dan para hadirin sebagai saksi di gedung ini. Dan demikianlah apa yang saya sampaikan, mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. Sebelum saya akhiri, dengan ucapan alhamndulillah, Olimpiade Tingkat Nasional di nyatakan di tutup. Dan saya akhiri wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Gedung semakin ramai, tepukan demi tepukan saling bersahutan. Ribuan audiens merasa bangga kepada menteri pendidikannya. Yaitu menteri yang peduli dengan nasib rakyatnya, sehingga memberikan beasiswa kepada Alifah, sang juara olimpiade tingkat nasional dan sekaligus mewakili Indonesia mengikuti olimpiade sains tingkat internasional di Negeri Eifel yaitu Prancis, tempatnya di Sorbon.

Tasman Al Buton Kesibukan Sebagai Seorang Kepala Desa di Buton Selatan dan Pengajar disekolah, masih memantaskan diri untuk menulis. Ayo Teman-teman menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *