UUD KUHP Menyapa Ratu Empat, Pantai Lagunci

0 6
Loading...

UUD KUHP Menyapa Ratu Empat, Pantai Lagunci- Siang terang, awan putih perlahan-lahan minggat meninggalkan bayangan. Mentari semakin mempertajam sinarnya menerobos lautan yang bebas. Ombat kecil berkejar-kejaran bak anak kecil yang sedang bermain. Burung bangau putih terbang olang aling mencari ikan kecil untuk di santapnya. Matanya menerobos di sela-sela batu karang. Ikan kecil bersembunyi dibalik batu, nampak ekornya. Tuts-tuts, bangau itu menangkap ikan kecil.

UUD KUHP Menyapa Ratu Empat, Pantai Lagunci

Ikan kecil hanya pasrah dan ikhlas. Baginya inilah nasib makhluk kecil yang menjadi santapan yang lebih besar, bila yang besar tak mempunyai rasa iba dan bijaksana. Di luaran sana, ada ribuan mahasiswa yang sedang kuliah dijalan. Orasi demi orasi dilontarkan dengan pengeras suara. Namun suara tak terdengar oleh sang pemegang kebijakan. Walaupun sosystem besar telah mereka gunakan. Namun sang pemegang kebijakan telah pekat telinga dan hatinya.

Gedung yang indah kini menjadi lautan api. Gerbang yang bagus dengan ukiran yang indah kini telah ditumbangkan oleh mahasiswa. Gerbang itu dibuat dengan menggunakan uang rakyat. Kini atas nama rakyat di tumbangkan kembali demi membatalkan aturan yang tak bermanusia, menurut mereka. Bukankah tujuan dari aturan yang dibuat yaitu agar mengatur tatanan kehidupan manusia disetiap negara berjalan dengan damai dan adil.

Di ratu ampat tepatnya di pantai lagunci, ada beberapa pemuda yang sedang santai menikmati indahnya gugusan batu besar yang membentuk pulau kecil. Pandangan mereka menolek kekanan dan kekiri. Kadang-kadang fokus dihamparan lautan yang bebas.

Baca Juga: Golongan Mana Yang Masuk Surga?

Hammock telah di ikat dibatang kelapa. Gitar mulai diperbaiki nadanya. Ngaun-ngaun rasanya bila lagu tak sejalan dengan nada. Demikian pula, negara ini akan terasa sebal bila aturan yang dibuat tak memanusia. Ya, bagaimana bisa aturan yang dibuat untuk mengatur manusia, namun tak bermanusia. Perlahan-lahan nada mulai terdengar indah. Suara indah mulai mengalun ditelinga.

“Negeri ini mulai kacau,”ucap salah satu pemuda

Petikan gitar terhenti.

“Kenapa kacau?

Hening rasanya, angin siang perlahan-lahan meniup alun-alun.

“Kamu tidak nonton berita?

“Ya nonton, tapi siaranya aman-aman saja.

“maksudku nonton di youtobe dan video di facebook.

“Tidak, emangnya apa yang terjadi?

“Jutaan mahasiswa berdemonrasi di hadapan kantor DPR RI, DPRD Pemprov, DPRD kabuaptan dan kota diseluruh indonesia. Mereka menolak UUD KHUP yang dibuat oleh DPR RI, sebagian sudah disahkan dan sebagiannya belum.

“Emangnya bagaimana isinya?,”Tanya salahsatu pemuda yang ingin tahu.

“Tunggu dulu, saya buka facebook dulu. Kontroversi pertama, orang yang membiarkan unggasnya berjalan di tanah orang lain yang sudah ditaburi benih, dipidana dengan denda, kategori maksimal 10 juta rupiah (pasal 278). Kontroversi yang kedua, pelaku criminal yang berusia di atas 75 tahun tidak dipenjara ( pasal 70 ayat 1 huruf b RKUHP). Kontroversi yang ketiga, pasal pidana terkait santet yang sulit dibuktikan (pasal 252 RKUHP). Kontroversi ke empat, suami perkosa istri dapat dipidana penjara paling lama 12 tahun (pasal 480 RKUHP)

“Iya juga ya, kok begitu pasalnya. Kayak tak ada kerjaan aja, urusan unggas dibahas, urusan ranjang dibahas, urusan santet dibahas. Kenapa tidak bahas urusan yang paling urgen yaitu urusan lapangan kerja, urusan BPJS, urusan mahalnya biaya rumah sakit, urusan listrik yang mulai mahal, urusan administrasi kapal yang berbelit-belit,”komentar salahsatu nelayan yang sempat hadir.

UUD KUHP

“Oh ia, pantas saya lihat difacebook. Ada mahasiswi yang membawa poster yaitu urusan ranjangku bukan milik negara. Padahal itu masalahnya.

“Kira-kira menurutmu bagaimana itu?, kan kamu pernah kuliah juga di hukum, walaupun hanya semester 5.

“Menurutku kita pelajari dulu apa penjelasan dari aturan itu. Jangan sampai ada pengecualian, atau alasan lain. Justru itu, tak elok kita hanya membaca sepenggal. Yang paling bagus kita baca semuanya.

“Tapi kenapa mahasiswa marah. Itu pertanyaanya, bukankah mereka cerdas memahami aturan. Apalagih bukan saja jurusan yang lain turun ke jalan. Namun jurusan hukum pun ikut turun. Saya cenderung sepakat dengan mahasiswa. Bila UUD itu disahkan itu akan mempengaruhi kehidupan kita.

“Kira-kira menurut kalian semua, siapa yang salah?. DPR kah atau mahasiswa, atau justru kita yang salah.

“Masah kita yang salah! DPR lah,”sangggah seorang yang memegang gitar

“Ya, boleh jadi kita yang salah. Kita telah salah memilih wakil rakyat kita. Kita disuap dengan uanggnya, namun kita pun menerima uang suap itu. Lalu dengan semena-menanya mereka membuat aturan, justru menghancurkan bosnya.

“Maksudmu bosnya siapa?

“Ya kita lah bosnya. Bukankah anggota DPR itu wakil kita. Rakyat yang menjadi bos, sedangkah mereka adalah wakil rakyat, tapi kadang tak merakyat.

“Tak usahalah urus negara. Lebih baik urus diri masing-masing aja,”cuek salah satu warga.

“Itu urusan kita juga, bila disahkan, lalu dijalankan. Tiba-tiba kita melanggar aturan itu, sudah tentuh kita juga yang repot,”sanggah salah satu warga yang pernah kuliah hukum.

Gitar mendayun berirama. Tiba-tiba terhenti, imajinasi melambung tinggi.

“Eh ngomong-ngomong kenapa di TV tidak disiarkan ya?,”Tanya yang memegang gitar.

“Ya maklumlah, semua media TV telah berkejasama dengan pemerintah.

“Ia juga!, yuk daripada pusing mikirin negara lebih baik kita menyanyi saja,”ajak yang memegang gitar.

Baca Juga: HIDUP SEPERTI SECANGKIR KOPI

Gitar dipetik kembali. Nyanyian mulai bersahutan. Suara yang indah diimbangin dengan petikan gitar yang cerdas membuat mereka terhanyut. Mikiran mereka tentang negara perlahan-lahan hilang ditelan melodi.

Loading...
Comments
Loading...