Wanita Pun Boleh Menyampaikan Perasaanya Kepada Laki-Laki Lebih Duluan

  • Whatsapp
Wanita Pun Boleh Mengungkapkan Perasaanya Kepada Laki-Laki Lebih Duluan

Tak ada rotan akar pun jadi. Bila laki-laki takut menyampaikan perasaanya kepada wanita, padahal sudah ada sinyal rasa cinta. Tak usahlah menunggu laki-lakinya yang mengatakan duluan, wanita pun boleh lho mengatakan duluan. Asalkan penyampaian tidak melanggar agama. Tidak semua laki-laki itu pemberani dalam mengungkapkan rasa cinta kepada wanita. Justru perantara itu diperlukan dalam menjalin ta’aruf cinta, demi menuju pelaminan.

Bila tidak bisa secara langsung, kalian bisa menggunakan strategi cinta Khadijah demi menjadi istri Rasulullah. Dialah yang menyakinkan Muhammad Saw untuk segera menikah, melalui perantara Nafisah binti Munyah. Atas negosiasi Nafisah binti Munyah demi meyakinkan Rasulullah untuk segera menikah.

Maka terjadilah pernikahan itu, walaupun awalnya sang rasul bertanya kepada Nafisah binti Munyah, kira-kira yang cocok dengan diriku dengan siapa?. Sang Nafisah menjawab, yang cocok dengan dirimu ya Muhammad yaitu Khadijah ra. Padahal itu merupakan stategi Khadijah demi meyakinkan Rasulullah untuk melamar dirinya.

Sungguh itu bukanlah aib, bila wanita duluan yang menyampaikan lamaranya. Itu tidak masalah, sebagaimana Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Anas bin Malik ra. Yang menjelaskan bahwa suatu ketika terdapat seorang wanita yang datang dan menawarkan dirinya kepada Nabi Saw. Wanita tersebut berkata:

“Wahai Rasulullah apakah Anda mempunyai keperluan terhadap diriku? Mendengar penuturan wanita tersebut, putri Anas berkata: “alangkah sedikit rasa malunya. Sungguh buruk, sungguh buruk. “Mendengar ucapan putrinya itu Anas pun berkata: “Dia lebih baik darimu. Dia senang kepada Rasulullah, lalu menawarkan dirinya untuk Beliau” (dikutip dalam Shahi Bukhari)

kepada ikhwan yang dimaksud
Photo by Dev Asangbam on Unsplash

Baca Juga: Cinta Di Pohon Cengkeh

Tentang bagaimana cara melakukannya? Proses itu bisa dilakukan secara langsung baik dengan berbicara langsung atau melalui surat. Jika memang cara berbicara secara langsung yang dipilih, tetap harus diingat tidak boleh khalwat. Untuk itu akhwat tersebut perlu didampingi oleh orang ketiga yang ia percaya penuh.

Baca Juga:  Nikmat Allah mana yang Kamu Dustakan?

Namun biasanya untuk mengatakan langsung apalagi dengan bertemu, bagi akhwat mungkin berat untuk bisa melakukannya. Boleh bisa dilakukan via telepon. Atau jika tidak, bisa juga dilakukan melalui surat. Jika secara langsung masih malu melakukannya, maka boleh kita menggunakan perantara dari orang lain.

Yaitu melalui orang yang dipercaya untuk menanyakan atau menyampaikannya kepada ikhwan yang dimaksud. Tentu saja orang yang dipilih sebagai perantara adalah orang yang tepat yang dapat dilihat dari tiga sisi:

  1. Ia orang yang bisa dipercaya. Karena dalam hal ini akhwat tadi telah mempercayakan sesuatu yang pribadi sifatnya dan apabila tersebar luas bisa menimbulkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan. Sehingga memunculkan fitnah yang tidak di inginkan. Berhubung menfitna itu lebih kejam daripada membunuh.
  2. Perantara tersebut mampu mengungkapkan apa yang menjadi maksud si akhwat dengan baik. Hal ini berlaku jika pengungkapan itu secara lisan. Namun jika perantara itu hanya diminta menyampaikan surat maka faktor kedua ini tidak menjadi masalah.
  3. Perantara itu memang memiliki akses langsung kepada ikhwan yang dimaksud. Hal ini perlu agar tidak bertingkat-tingkat jalur komunikasinya. Disamping dengan begitu akan memperkecil peluang terbukanya masalah itu ke orang lain.

Untuk tahap permulaan, cukup dengan menanyakan kesiapan ikhwan itu untuk berkeluarga dan apakah ia sudah mempunyai keinginan untuk membina rumah tangga. Jika jawabannya positif barulah dilanjutkan pada proses inti. Dalam tahap paling awal sebaiknya jangan memberikan data-data yang paling inti. Jika sudah masuk pada proses inti barulah data pribadi itu disampaikan.

Hal itu dimaksudkan untuk menjaga agar data pribadi tersebut tidak tersebar kepada orang lain, juga tidak perlu membebani ikhwan tersebut atau orang yang menjadi perantara, untuk menjaga rahasia data pribadi itu. Strategi ini bila sang ikhwan dan akhwat belum saling mengenal, bila sudah saling kenal-mengenal, sebaiknya ikhwan langsung melamar di hadapan orangtuanya. Berhubung yang menjadi wali nikahnya kedepan yaitu orangtua perempuan, supaya lebih afdhol.

Baca Juga:  Harapan Pudar - Motivasi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *