Zikir Cinta Dipucuk Gamalama – CERPEN

0 9
Loading...

Sore itu, angin terasa dingin sehingga mampu menembus rongga-rongga manusia, ia menyapa dedaunan, menyapa pohon-pepohonan. Angin itu seolah-olah membawa semilir surat buat kekasihnya yang berbulan-bulan menunggu surat balasan. Kini kerinduan telah terobati ketika surat itu telah tiba. Mentari semakin menit semakin tenggelam. Perlahan-lahan tapi pasti, ia rela meninggalkan siang demi memunculkan malam. Ia rela meninggalkan siang demi menampakkan rembulan. Ia rela berbagi sinar kepada rembulan, walaupun manusia hanya mengagungkan rembulan dan melupakan dirinya.

ZIKIR CINTA DI PUNCAK GAMALAMA

Baca Juga: HIDUP SEPERTI SECANGKIR KOPI

Di puncak Gamalama hembusan angin menyapa kawa gunung berapi. Gunung itu seolah-olah berzikir mengagungkan nama Allah disetiap hembusan angin yang membawa asap. Asap itu mengangkasa seolah-olah dia sedang melakukan perjalanan yang panjang. Yaitu perjalanan menuju sang Illahi.

Pukul 04.00 sore hari, berkumpulah dua belas mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus demi mendiskusikan pembentukan panitia Rihla digunung Gamalama. Satu persatu perserta rihla mulai berdatangan. Moderator mulai membuka agenda rapat pada sore itu. Arfan mulai memimpin berjalannya diskusi.

Assalamu alaikum, pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang alhamndulillah pada kesempatan ini kita masih diberikan kesehatan sehingga kita bisa berkumpul ditempat ini dalam rangka melaksanakan aktifitas kita yaitu rapat. Dan tak lupa pula kita kirimkan salam dan shalawat kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW. Atas perjuangan beliau sehingga kita dapat menikmati betapa indahnya islam. Alhamdulillah sebagaimana rencana kita pada rapat yang lalu. Pada kesempatan ini kita adakan rapat pemantapan demi memantapkan kegiatan rihla kita besok di puncak Gamalama. Bagaimana ada usulan dan bagaimana perlengkapannya? Tanya Arfan selaku ketua panitia kegiatan rihlah.

“Insya Allah, kak sudah lengkap semua tinggal besok kita persiapan fisik saja, untuk mendaki di puncak Gamalama. Disana cuacanya agak dingin, justru itu diharapkan kepada teman-teman untuk mempersiapkan jeket, dan selimut. Karena rencananya kita bermalam disana,”sahut Hadijah.

“Oh ia betul sekali apa yang disampaikan Hadijah, bagaimana dengan tendanya masing-masing, yang akhwat udah ada tendanya dan ikwan bagaimana sudah ada tendanya?,” Tanya Ahmad

“Insya Allah sudah lengkap semuanya, tinggal besok saja kita mendaki. Oh ia sebelum mendaki saya usul kita berdoa dulu ok,”Usul Marwan selaku koordinator perlengkapan.

“Oh ia saya lupa, berapa orang akhwat yang mendaki?. Insya Allah, untuk ikhwan yang mendaki sepuluh orang, mungkin kita pake dua tenda, sedangkan yang akhwat berapa? Tanya Arfan

“Insya Allah yang akhwat dua tenda juga, kita mungkin sebelas orang yang mendaki,”Jawab Aisyah

“Teman-teman apapun yang terjadi besok kita harus saling melindungi, dan tetap semangat serta persiapkan fisik, ana harap sebentar malam jangan ada yang begadang agar persiapan fisik kita besok mantap. Kita taklukan gunung Gamalama dan kita kibarkan sang saka di puncak Gamalama. Oh kita kibarkan juga bendera Lembaga Dakwah Kampus agar para malaikat bersaksi bahwa kita merupakan pendakwah dan penerus perjuangan para nabi, menyampaikan kebenaran demi tegaknya agama. Insya Allah Gamalama pun akan bersaksi, dia akan bersaksi bahwa kita pernah mengibarkan bendera para nabi di puncaknya. Dan dia akan bersaksi bahwa kita penerus perjuangan para nabi, DIApulah akan bersaksi bahwa kita penegak agamaNya dan DIA pun akan bersaksi bahwa kita merupakan pemegang amanah yang baik. Insya Allah, Allah akan meridhoi perjalanan kita, Amieeen,”Jelas Arfan selaku ketua panitia rihlah.

“Insya Allah, ana setuju dengan usulan kak Arfan,”sahut Aisyah

“Setuju atau suka, hehehe” bisik Hadijah.

****

Pagi yang indah, perlahan-lahan mentari manampakkan batang hidungnya, menyinari sudut-sudut kota, menyinari danau Tolire, menyinari menara Masjid Al Munawar Ternate, menyinari gunung Tidore, menyinari Kraton Ternate, menyinari benteng Taloko, benteng Orange dan benteng Kalimata peninggalan kesultanan Ternate. Mentari itu seolah-olah menyapa benteng-benteng itu dan membangunkannya untuk menyambut pagi yang penuh barakah.

Baca Juga: Golongan Mana Yang Masuk Surga?

Angin sepoi meniup dari utara menyapa dedaunan, pepohonan serta menyapa mereka yang sedang bersiap-siap menaklukan puncak Gamalama.

“Gamalama engkau akan kami taklukan dan kami akan kibarkan bendera perjuangan. Gamalama suatu saat engkau akan bersaksi dihadapan Tuhan kami bahwa kami merupakan pejuang-pejuang penegak agamaNya. Gamalama suatu saat engkau akan bercerita kepada anak cucu kami apabila kami telah tiada, bahwa neneknya dulu pernah menaklukan puncak Gamalama,” terbesik dalam hati Aisyah.

Gamalama suatu saat engkau akan bersaksi bahwa kami merupakan sahabat yang paling ideal. Sahabat yang saling melindungi dan sahabat yang saling mencintai karena Allah sebagaimana sabda nabi kami

“Di atas arsy ada menara yang bercahaya, disetiap menara yang bercahaya ada orang-orang yang berpakaian cahaya, mereka bukan para nabi dan bukan pula para syuhada, bahkan para nabi dan para syuhada iri terhadap mereka. Maka para sahabat bertanya kepada rasulullah, siapakah mereka itu?. Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah dan saling menasehati karena Allah.

Lets go friends, mari taklukan Gamalama dan siapkan fisik kita, takbir!,”ucap Arfan memberi semangat kepada rekan-rekannya.

“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!,”takbir seluruh peserta rihla.

Perlahan-lahan tapi pasti, semakin menit kaki meninggalkan jejak langkah, ya jejak langkah sang petarung. Sang pejuang walaupun ransel semakin terasa berat, namun semangat mereka belum kendor, keringat mulai perlahan-lahan menetes. Semakin dipuncak semakin udaranya dingin. Sudah satu kilo telah mereka lewati, tiba-tiba Aisyah terpeleset kakinya.

“Aduh sakit, tolong-tolong”teriak Aisyah

Seluruh peserta segera berkumpul menolong Aisyah. Hadijah segera melakukan tindakan pertama. Ya tindakan pertolongan seorang medis, ia segera memijit kaki Aisyah yang keseleo, perlahan-lahan tapi pasti, semakin dipijit semakin berkurang. Aisyah berharap kakinya akan segera sembuh.

“Bagaimana Aisyah apakah kamu kuat melanjutkan pendakian atau tidak? Kalau tidak lagi, nanti kita batalkan pendakian kita,”Tanya Arfan selaku ketua koordinator rihlah.

“Insya Allah kak, saya bisa menaklukan puncak Gamalama. Saya akan berjuang sekuat tenaga untuk menaklukan puncak itu. Lagian saya ingin sekali melihat pemandangan kota Ternate di atas puncak Gamalama. Kemudian ia bangkit, ia kuatkan tekatnya demi menahan rasa sakitnya untuk menaklukan puncak Gamalama. Ia berjuang penuh semangat, di iringi zikir dan takbir dari teman-temannya.

“Ayo Aisyah pasti bisa, semangat terus, insya Allah pasti kita sampai di puncak juga.

Setiap hentakan kaki para aktifis selalu diiringi dengan takbir yang menggema dari bibir sang pejuang. Kini semangat Aisyah semakin berkobar. Sakit, lelah, dingin dia bisa tahan. Matanya menerobos cakrawala di langit Gamalama. Semangat yang mulai kendor kini bangkit kembali. Langkah demi langkah ia lalui, jejak demi jejak dia tinggalkan, perlahan-lahan puncak Gamalama menyebarkan senyumnya, menyambut para pejuang-pejuang islam demi mengibarkan bendera sang saka dan bendera islam di pucak Gamalama.

Setibanya di puncak Gamalama takbir pecah menghiasi gemah-gemah gunung. Takbir itu semakin membahana terbawa angin dingin di puncak itu. Arfan segera menancapkan sang saka di puncak itu, kemudian mereka memberi hormat. Kini jiwa nasionalisme mereka semakin berkobar mengaliri peredaran darah menembus kehati, perlahan-lahan mata mereka berkaca-kaca sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Usai itu, mereka segera memasang tenda masing-masing. Dua tenda akhwat dan dua tenda ikhwan. Semakin menit perlahan-lahan mentari mulai tenggelam. Udara dingin semakin menembus ronggah-ronggah tubuh. Selimut demi selimut telah mereka persiapkan, jeket telah mereka pakai demi menghangatkan tubuh mereka.

Ahmad mulai mengumandangkan azan di puncak Gamalama, mereka mulai berkumpul demi melaksanakan sholat magrib dan setelah itu sholat isya. Usai sholat isya, Arfan berdiri dihadapan para jamaah, demi menyampaikan sepatah kata tentang kegiatan sebentar malam.

“Teman-temanku yang dirahmati Allah, puji syukur hanya kita serahkan kepada Allah Semata dan shalawat hanya kita hanturkan kepada nabi kita Muhammad Saw. Insya Allah sebentar kita bangun seperdua malam demi melaksanakan sholat Lail. Setelah itu baru kita renungan dan selanjutnya kita menunggu sholat subuh.

Tengah malam satu persatu peserta rihlah dibangunkan, akhwat mulai memakai mukema warna putih, Ikhwan memakai baju kokoh. Arfan mulai berdiri untuk menjadi imam, takbir mulai memecah cakrawala malam menembus heningan malam yang penuh ditaburi bintang gemintang serta dipimpin oleh rembulan. Sinar rembulan mulai menyapa mereka yang sedang sujud mengagungkan nama Allah. Usai sholat lail, Arfan berdiri menyampaikan materi.

ZIKIR CINTA

Baca Juga: TUHAN, AKU INGIN SEKOLAH!

“Teman-temanku seandainya malam ini merupakan malam terakhir kita, yaitu malam ketika malaikat maut datang, ia mulai mendekati kita, perlahan-lahan satu persatu dari kita telah pergi meninggalkan dunia, apa yang perlu kalian persiapkan. Dan sudah berapakah amal kita, terlalu banyak dosa yang kita lakukan kepadaNya, sehingga kita lupa menyembah-Nya dan lupa bersyukur kepada-Nya. Padahal Allah tidak pernah meminta, namun dia selalu memberi.

Tetesan air mata terjatuh membasahi puncak Gamalama. Sujud syukur mulai mereka lakukan demi merendahkan hati mereka. Tangisan demi tangisan memecah keheningan malam, walaupun angin malam terasa dingin, namun sujud mereka terasa khusyuh.

****

Esok pagi, mentari mulai membagikan sinarnya menyinari sudut-sudut tenda dan mulai menghangatkan para pejuang islam di puncak Gamalama. Tiba-tiba ada yang mendapatkan sms, bahwa diharapkan seluruh pendaki agar segera meninggalkan puncak, berhubung gunung berapi mulai siaga. Satu persatu mulai panik, namun Arfan segera menenangkan mereka, agar mereka kembali dengan selamat. Mereka segera membereskan barang-barangnya. Sebelum kembali, mereka berkumpul dulu demi mencek jumlah anggota mereka. Setelah dicek ternyata masih ada satu orang yang belum sempat datang yaitu Aisyah.

“Dimana Aisyah?,” Tanya Arfan

“Oh nanti saya cek dulu ditenda, jangan sampai dia masih ditenda kak,” ujar Hadijah

Hadijah segera mencek Aisyah, ternyata Aisyah sedang terbaring di dalam tenda dalam keadaan menangis. Kakinya mulai bengkak, dan dia tidak bisa berdiri lagi. Hadijah segera meminta bantuan kepada teman-temannya, namun mereka bingung bagaimana caranya agar mereka membawa pulang Aisyah. Diskusi demi diskusi hampir tidak ada titik temunya. Akhwat, mereka kewalahan memopong Aisyah. Arfan mulai bingung, dia selaku pemimpin, ia ingin sekali membantu Aisyah, namun dia bukan muhrimnya. Namun bila dia tidak membantunya maka secara otomatis dia dikatakan orang yang tidak bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya.

Pikirannya mulai menerobos dua hadis nabi yang sedikit mengerutkan jidatnya. Yaitu hadis tentang pemimpin dan hadis tentang menyentuh wanita yang bukan mahramnya. Perdebatan mulai sengit, dia sebagai pemimpin apapun yang terjadi dia harus bertanggungjawab. Namun temannya yang fanatik melarang dia menggendong Aisyah dibelakangnya. Dengan dalil bukan muhrimnya, padahal informasi dari sms mereka harus segera meninggalkan puncak Gamalama. Dengan terpaksa akhirnya dia memutuskan menggendong Aisyah, apapun yang terjadi dia harus bertanggungjawab, bukankah ini dalam keadaan darurat, ia relah mempertanggungjawabkan hal itu dihadapan Allah. Ia tidak tega melihat makhluk Allah yang hampir tidak berdaya, namun dia tidak menolongnya.

Teman-temannya yang fanatik mulai sinis melihat tingkah laku Arfan. Namun dia tetap pendiriannya untuk menggendong Aisyah. Dalam hatinya,”Bila teman-temannya melaporkan hal itu kepada Ayah Aisyah dia siap untuk menikahi Aisyah, bahkan dia siap bila keluarga Aisyah menamparnya. Dia ikhlas membantu, sekaligus dia ingin mempertanggungjawabkan atas apa yang dipimpinnya.

*****

Tujuh hari kemudian, keluarga Aisyah mendengar informasi bahwa Arfan yang menggendong Aisyah sampai tiba dikota Ternate. Ayah Aisyah marah, ia segera memanggil Arfan dan kemudian menamparnya. Melihat hal itu Aisyah segera menahan ayahnya, tak berapa lama datanglah ibu Aisyah menahan suaminya. Kemudian mereka disidang, sidang itu memutuskan bahwa Arfan harus menikahi Aisyah. Pada akhirnya menikahlah mereka berdua. Di dalam kamar Aisyah menunggu suaminya, Arfan yang baru menikah, ia agak malu, namun istrinya memberikan senyum yang mekar demi menyambut sang kekasih. Sebelum tidur mereka melaksanakan sholat terlebih dahulu kemudian Arfan menyampaikan sepatah kata buat istrinya.

“Istriku yang saya cintai, sebelumnnya saya minta maaf sebelum saya menikahi kamu, ada seseorang wanita yang telah menggugah hatiku, dia wanita yang saya cintai, dia wanita yang bila kupandang dapat menenangkan jiwaku, dia wanita yang selalu membuat saya termotivasi sehingga saya selalu bangkit.

Tiba-tiba mata Aisyah mulai berkaca-kaca, senyum yang manis mulai pudar. Dia beranggapan bahwa suaminya terpaksa menikahi dirinya. Dan dia menikah tanpa adanya dasar cinta. Padahal sesungguhnya bila dia jujur, bahwa dia sudah lama sekali mencintai Arfan, namun dia memendam rasa itu. Dan kini saatnya dia menyampaikan hal itu, namun mendengar pernyataan Arfan dia langsung diam dan berkaca-kaca matanya. Kemudian Arfan melanjutkan ungkapannya.

“Tahukah engkau istriku wanita yang saya jelaskan itu yaitu wanita yang ada dihadapanku sekarang.

Mendengar hal itu, istri Arfan langsung memeluk suaminya dan membisikkan sepata kata kepada suaminya, bahwa dia juga sudah lama memendam rasa. Setelah itu mereka bersama-sama membaca surah Ar Rahman. Fabiai ala irobbikum matukaziban.

Tangisan airmata kepedihan berganti dengan tangisan airmata kebahagiaan. Aisyah merasa bahagia sekali malam itu, ia seolah-olah merasakan betapa indahnya dunia, ia merasakan betapa indahnya ia mendapatkan laki-laki sholeh yang ia kagumi selama ini. Ia tidak menyangka bahwa di puncak Gamalama sehingga dia dapat menemukan jodohnya. Ya jodoh yang selama ini ia rindukan dan kini telah halal baginya, dan demikian pula dirinya telah halal bagi suaminya.

Hati Arfan berbunga-bunga. Senyum, tasbih, zikir, syukur, tahmid, dan tahlil telah terucap di bibir mereka. Mereka seolah-olah telah menjadi pangeran dan ratu yang menggenggam manisnya cinta. Ya cinta yang diberikan oleh sang pencipta cinta.

“Yuk kita sholat dulu kak,” Ajak Aisyah

“Ia dek, kita sholat dulu ya dik.

“Habis itu, ya ehem,” batuk Aisyah.

“Maksudnya adik apa ya?

“Ya begitulah

Arfan tersenyum manis kepada istrinya, ia tahu apa yang dimaksud istrinya,” Insya Allah.

Malam itu menjadi saksi awal kisah cinta mereka. Rembulan tersenyum manis, bunga mawar mulai mekar, bintang-gemintang bersaksi, ya menjadi saksi kisah cinta mereka. Angin malam menembus rongga-rongga sang pecinta, menusuk kehati. Perlahan-lahan tapi pasti, kini cinta terasa indah, ya indah membawa angin kerinduan tiada tara. Bertahun-tahun menunggu sang kekasih, kini sang kekasih telah ada di hadapan mata. Kerinduan telah terobati, jiwa telah terisi dengan cinta dan kasih sayang demi mendapatkan cinta semurni-munirnya cinta dari sang pencipta cinta.

 

Loading...
Comments
Loading...